Tags

Nama : Finny Fitria Febrin

NIM : 1402045062

  1. Hasil Wawancara Anti Korupsi di Instansi

Beberapa waktu lalu, kami tim pemburu tikus berdasi telah melakukan wawancara terkait korupsi di Poltabes Samarinda, dengan narasumber Bapak Bambang Susilo selaku kabid tipikor Poltabes Samarinda. Berikut hasil wawancaranya.

  1. Apa itu korupsi?

Korupsi adalah suatu tindakan melanggar formil dan materil yang berdampak merugikan Negara. Formil dimisalkan dengan bantuan hibah, suatu organisasi diberikan hibah oleh pemerintah, namun tidak dikerjakan. Proposal yang dibuat adalah tentang penghijauan namun yang dikerjakan tidak sesuai apa yang diajukan di proposal. Factor yang mempengaruhi adalah dari diri masing-masing, niat dari awal adalah sikap dan tindakan , moral yang kurang.

  1. Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang melakukan korupsi?dan bagaimana cara menanggulanginya?

Factor yang paling mempengaruhi adalah pengawasan dari dalam. Cara menanggulangi korupsi, 1 pengertian korupsi ditanamkan dari tingkat SD sampai Mahasiswa. Dari moral dan sisi agama , jangan didepankan Cuma intlektual aja, ada 3 kekuatan, intlektual, spritural, emosional. Spritural harus didahulukan dari pada intlektual, supaya ada factor pengawasan dari dalam dirinya sendiri.

  1. Hukuman apa yang pantas untuk para pelaku korupsi?

Hukuman untuk para korupsi, sesuai dengan apa yang dikorupsikan apabila mengkorupsi 500 juta harus kembali 500 juta, supaya jera harus diberikan hukuman penyitaan asset-asset yang dia punya, dan hukuman pengasingan juga bisa diterapkan contoh kasus seperti peyucian uang untuk menyembunyikan uang korupsi. Penting tidak sih pendidikan anti korupsi,menurut bapaknya penting karna dari bibit-bibit awal itu lah kita bisa mengajarkan pentingnya untuk tidak korupsi dan belajar untuk jujur dan selalu berusaha untuk menggapai sesuatu dengan cara halal, jangan setelah udah dewasa baru kita ajarkan anti korupsi. Ditanamkan iman,taqwa, serta moral yang benar untuk berbuat jujur dan tidak melakukan korupsi.

Hal menarik yang beliau sampaikan adalah bahwa para koruptor itu orang – orang yang berintelektual tinggi, berpendidikan. Tapi nyatanya? mereka-mereka yang kita harapkan malah merusak bangsa kita sendiri. Mereka memperkaya diri sendiri dan tidak memikirkan nasib orang banyak. Mereka dengan seenaknya menggunakan uang rakyat untuk berpergian dengan keluarga sedangkan masih banyak yang kelaparan. Disinilah moral spiritual perlu ditanamkan. Tapi dengan kasus yang sekarang, orang yang dari luarnya terlihat agamis ternyata bisa melakukan korupsi juga Jadi intinya pengawasan dari dalam, moral kita, belajar jujur dari hal-hal kecil, ingat tuhan, sebagai pondasi awal untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun.

Terkadang yang membuat seseorang korupsi adalah faktor gaya hidup yang berlebihan dan tidak  mau bekerja keras dengan cara yang halal. Sebenernya kalau mereka mau kaya harus ditanamkan kerja keras agar mereka tidak korupsi. Biasanya keluarga yang diberi uang korupsi, akan melakukan hal yang sama. Makanya kalian sebagai mahasiswa sebagai pengganti kami yang sudah tua ini, berusahalah jujur mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Bekerja keras, usaha dan jangan lupa berdoa untuk membentengi diri untuk tidak melakukan korupsi dan selalu ingat kepada Tuhan, karena korupsi itu bukan karna niat dari pelakunya, namun adanya kesempatan yang membuat mereka korupsi.  Intinya JAUHI,HINDARI,DAN LAPORKAN apabila ada yang melakukan korupsi.

  1. Pengalaman Pribadi terkait Korupsi di Lingkungan Sekitar

Kebetulan, selama ini saya belum (dan semoga saja tidak  sama sekali) menemukan hal-hal yang terkait dan menjurus ke dalam praktik korupsi baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Mungkin pernah beberapa kali saya mendengar saja pengalaman keluarga saya kalau di lingkungan kerja mereka ( kebetulan beberapa dari keluarga berprofesi sebagai PNS ) ada “percik-percik” kecil yang menjurus pada praktik korupsi. Karena memang lingkungan kerja mereka yang lumayan rawan terhadap praktik-praktik korupsi. Namun walau begitu, keluarga saya juga tegas dalam melawan dan menghindari hal-hal semacam itu. Dari situ pula saya belajar dengan sendirinya untuk melakukan hal yang sama seperti keluarga saya, menolak tegas bibit-bibit korupsi..Lingkungan keluarga adalah sarana pendidikan yang sangat penting dalam membentuk karakter seseorang, hal itu memang benar adanya. Keluarga saya mencontohkan hal-hal yang baik,utamanya dalam menolak tegas segala bentuk korupsi. Tentu saja saya ikut terdoktrin. Mungkin kalau keluarga saya seorang koruptor bisa saja saya akan terikut jadi seorang koruptor nantinya. Bersyukur selama ini saya hidup di lingkungan yang sehat. Ditambah dengan wawasan anti korupsi yang sudah saya miliki, insya allah semua itu dapat membentengi diri dalam menghindari perbuatan korupsi, dan juga dapat membaginya kepada orang lain juga.

Advertisements