Tags

Nama : Fitri Wahyunigsih

Prodi : Hubungan Internasional A

NIM : 1402045046

Saya akan menceritakan tentang pengalaman saya melakukan obeservasi untuk  tugas mata kuliah pendidikan anti korupsi di Kantor polisi sector samarinda bersama dengan kelompok saya yakni Pemburu Tikus Berdasi (PTB) beserta kesan dan pengalaman yang saya alami selama melakukan obeservasi ini . Pertama saya akan menceritakan sedikit tentang kronologi bagaimana kelompok kami bisa terbentuk. Awalnya Kelompok ini terbentuk atas permintaan ibu Eni karena beliau akan memberikan tugas per-kelompok. Syarat dari pembentukan kelompok tersebut adalah didalam kelompok tidak boleh bias gender, yang dimana dalam satu kelompok benar – benar di dominasi oleh gender tertentu. Setelah permintaan ibu Eni tersebut maka kami semua HI A 2014 langsung menjalankan permintaan tersebut. Dalam pembentukan kelompok PTB sebenarnya banyak tawar menawar dengan kelompok lain karena awalnya PTB itu di dominasi oleh perempuan. Namun setelah melakukan tawar menawar tersebut selesai, maka terbentuklah formasi Pemburu Tikus Berdasi (PTB)  yang beranggotakan 3 laki – laki, 5 perempuan yang sebenarnya masih bias gender.  Namun menurut saya 3 laki – laki dengan 5 perempuan itu sudah pas, karena jika semua kelompok ingin membuat komposisi perempuan dan laki – laki seimbang itu tidak bisa karena di kelas HI A 2014 memang jumlah mahasiswa laki dan perempuan juga tidak seimbang.

Saya akan langsung menceritakan tentang perjalanan saya bersama PTB melakukan observasi mata kuliah pendidikan anti korupsi di intansi yang telah kami setujui untuk di kunjungi yang pertama yakni Polsek samarinda dan yang kedua DPU. PTB melakukan obesrvasi lebih awal dari jadwal yang telah di tentukan yakni pada hari senin 27 april 2015.  Kami meluncur ke lokasi obesrvasi yang pertama yakni Polsek samarinda yang berlokasi di jalan slamet riyadi, cukup jauh lokasinya dari kampus FISIP UNMUL. Beberapa dari kami tidak tahu dimana lokasi Polsek samarinda tersebut, termasuk saya Karena saya memang bukan orang asli samarinda.  Ketua PTB Tegar Wicaksana memandu kami menuju lokasi Polsek Samarinda dimana selama memandu perjalanan dia (Tegar) tidak bisa mengendarai sepeda motornya dengan cepat agar teman- teman yang dibelakang tidak tertinggal atau bahkan nyasar. Denagn kecepatan yang minimal tersebut, perjalanan yang kami tempuh dari Kampus ke Polsek samarinda memakan waktu sekitar 30 menit. Kami brangkat dari kampus jam 09.40 am dan sampai sekitar pukul 10.10 am. Sesampainya kami di sana, Kami langsung memasukkan surat jalan yang di berisi permohonan kami untuk melakukan wawancara yang  telah  dibubuhi tanda tangan ibu Unis. Yang menerima surat jalan kami adalah seorang Polwan. Mba Polwan tersebut kemudian membawa surat permohonan tersebut dan meminta kami menunggu sebentar. Setelah menunggu sekitar 10 menit polwan tersebut menemui kami yang menunggu diluar dan meminta kami untuk masuk dan membawa sendiri surat permoohonan tersebut. Karena kami merasa jika semua anggota PTB masuk ke dalam akan terlalu ramai dan pada akhirnya akan mengganggu proses wawancara, maka kami memutuskan yang masuk ke dalam hanya 3 orang saja yakni pewawancara, perekam video, dan perekam suara.  Saya tidak termasuk dalam 3 orang yang masuk ke dalam kantor Polsek  pada hari ini, jadi saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam dan ruangan apa saja yang mereka masuki. Kami yang tidak masuk kedalam menunggu saja diluar dan tidak melakukan apa – apa.  Sambil menunggu rekan – rekan kami yang masuk ke dalam untuk wawancara dalam hati saya berkata ‘’ternyata semudah ini’’. Setelah lebih kurang 1 jam kami menunggu, rekan – rekan yang tadi masuk ke dalam akhirnya keluar. Mereka menceritakan apa yang tadi terjadi di dalam sana dan yang tadinya saya merasa bahwa semua berjalan dengan sangat mudahnya ternyata tidak benar. Teman – teman yang tadi masuk ke dalam menceritakan bahwa bagaimana mereka di giring dari satu ruangan ke ruangan lain, kemudian menunggu, kemudian digiring ke ruangan lain lagi, kemudian setelah bertemu dengan pejabat kepolisian yang ingin diwawancarai ternyata pejabat kepolisian tersebut mengatakan bahwa kami tidak mengukuti step – step untuk melakukan permohonan wawancara dengan benar. Menurut bapak polisi tersebut, sebelum bertemu dengan beliau ada tahapan – tahapan yang harus dilewati dan menurut beliau kami tidak menjalankan prosedur tersebut dengan benar. Namun rekan saya menjawab kepada bapak polisi ini bahwa apa yang mereka lakukan telah sesuai dengan apa yang diarakan oleh polwan yang tadi meminta mereka untuk masuk kedalam, tapi pak polisi ini tetap berdalih bahwa kami tidak mengikuti prosedur dan menurut pak polisi ini polwan yang tadi menggiring rekan- rekan saya ini adalah polwan baru sehingga belum mengerti tahapan yang harus dilalui jika ada orang yang ingin bertemu dengan beliau. Saya kurang ingat akhir dari cerita pengalaman yang dialami oleh rekan saya pada percobaan wawancara pada hari senin 27 april 2015  tapi yang jelas surat permohonan itu tetap ada di kantor polisi, mungkin menunggu suratnya di proses. Mungkin.

Setelah kami tidak mendapat apa – apa dari kantor polisi, kami melanjutkan untuk bisa melakukan wawancara di insntansi ke-2 yaitu DPU Kaltim. Tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai di kantor DPU kaltim karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Polsek samarinda yang ada di Jalan Slamet Riyadi. Kami hanya membutuhkan waktu lebih kurang 10 menit. Sesampainya kami di DPU Kaltim, kami menanyakan pada security setempat  arah menunju gedung utama lalu security tersebut menunjukkan kami bahwa gedung utama dari kantor DPU ini ada di tengah. Kami lalu langsung menuju gedung utama, kami menemui resepsionis yang ada di gedung tersebut dan menanyakan apakah ada pejabat DPU Kaltim ini yang bisa kami minta waktunya sebentar untuk wawancara tentang anti korupsi. Bapak yang duduk di meja resepsionis itu mengatakan bahwa kami bisa bertemu dengan Kasubang Umum namun bapak Kasubag Umum tersebut sedang ada tamu sehingga kami diminta untuk menunggu. Kami boleh menunggu didalam selama bapak Kasubag Umum menemui tamunya, namun  Bapak resepsionis mengatakan bahwa yang masuk ke dalam ruangan Kasubag Umum tidak boleh semua hanya perwakilan saja, maka kami memutuskan bahwa yang masuk ke dalam hanya 3 orang yang tadi juga masuk ke kantor Polisi. Lagi – lagi saya dan beberapa rekan saya tidak masuk ke sehingga kami tidak tahu apa yang sedang terjadi didalam sana. Kami yang berada diluar menunggu cukup lama, saya rasa satu jam atau lebih. Setelah saya dan rekan rekan yang tadi diluar menunggu, akhirnya 3 rekan saya yang melakukan wawancara keluar. Mereka menceritakan apa saja yang terjadi, dan ternyata waktu hasil wawancara yang mereka dapatkan hanya 2 menit dari 1 jam menunggu. Semua pertanyaan yang telah disusun tidak dapat di ajukan semua karena Pak Hatta (Kasubag Umum) sedang banyak pekerjaan sehingga beliau tidak bisa lama. Akhirnya setelah mendapatkan wawancara yang isinya sekitar 2 menit itu akhirnya kami memutuskan pulang, pas saat suara sholat dzuhur berkumandang.

Setelah hasil dari wawancara di DPU Kaltim yang kurang memuaskan, kami mencoba lagi di kantor polisi. Beberapa kali kami ke kantor polisi dan ternyata masih belum ada konfirmasi untuk surat permohonan kami. Namun setelah liku – liku yang kami lalui untuk bisa melakukan wawancara di kantor polisi, akhirnya pada hari senin  4 mei 2015 surat kami diterima dan kami bisa melakukan wawancara.  Walau kami bisa melakukan wawancara pada hari ini tapi tetap saja proses yang kami lalui sangat rumit. Untuk wawancara pada senin ini, saya ikut menjadi bagian dari pewawancara sehingga saya bisa lebih tahu tahapan – yahapan yang harus dilalui. Saya bahkan tidak ingat berapa ruangan yang saya dan rekan saya masuki dan berapa lama kami menunggu. Namun ada hal lucu yang terjadi saat saya dan rekan saya menyakan kepada salah satu polisi yang ada diruangan yang kami masuki.  Karena kami khawatir kegagalan yang terjadi pada senin lalu akan terulang lagi pada senin ini maka rekan saya mengatakan bahwa ‘’Pak bolehlah kami minta wawancara sama bapak aja, sebentar aja kok tentang anti korupsi ’’. Lalu bapak polisi tersebut menjawab ‘’oh saya tidak tahu, itu bukan bagian saya’’. Mendengar jawawaban bapak polisi tersebut saya tertawa dalam hati dan berkata bisanya polisi tidak tahu apa itu korupsi. Dan akhirnya setelah melalui proses yang begitu rumit, panjang , dan melelahkan kami dapat melakukan wawamcara anti korupsi kami pada bapak wakil TIPIKOR.

Pengalaman bekerja sama dengan PTB.

Selama bekerja sama dengan 7 rekan saya yang lain di PTB yakni Fira, Lita, Finny, Tegar, Desi, Adit, dan Ferdi semuanya hampir baik – baik saja. hampir semua dari kami saling membantu satu sama lain sebagaimana mestinya kerja team. Walau tidak semua  membantu rekan nya yang lain dengan maksimal, namun setidaknya mereka ada niatan untuk mengurangi beban rekan nya dan itu bagi saya pribadi sudah cukup dan saya menghargai itu. namun biasanya dalam sebuah kelompok ada saja beberapa anggota yang bisa dibilang tidak membantu sama sekali dan itu ada di dalam kelompok PTB.  Sejujurnya dari awal terbentuknya PTB, orang yang satu ini memang kontribusinya kepada team sangat kurang, bahkan saya bisa bilang hanpir tidak ada. Yang saya maksud dari awal bukan dari awal Mata Kuliah Anti Korupsi dibawakan oleh Ibu Unis namun dari awal semerster II saat MatKul Anti Korupsi dibawakan oleh Ibu Eni. Yang saya ingat kontribusi yang diberikan oleh rekan saya yang satu ini hanya membayar iuran untuk pembuatan sticker anti korupsi yang kami (PTB) desain.  Si OD hampir tidak ada dalam proses saat pembuatan desain sticker dan tidak ada saat kami melakukan pertemuan untuk membahas tentang tugas – tugas kelompok yang diberikan Ibu Eni dan ternyata kemalasan nya itu berlanjut sampai mata kuliah anti korupsi dibawakan oleh Ibu Unis. Dari awal kami melakukan obeservasi dari kantor polisi sampai DPU si OD tidak pernah ikut.  Kami memaklumi si OD mungkin tidak bisa ikut karena dia sangat bergantung sama orang tuanya yang selalu mengantar jemput dia sehingga dia tidak bisa bisa kemana mana tapi saat kami sedang ada dikampus membicarakan langkah – langkah yang akan kami ambil selanjutnya untuk obesrvasi ini dia juga tidak ada. Saya tidak berniat untuk menjelek – jelekkan OD, dia adalah teman yang sangat baik namun kenyataan nya dia memang tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi team. ada satu kejadian yang membuat OD sangat murka kepada kami. Saat itu Ibu Unis meminta kami mengumpulkan hasil essay kelompok dalam bentuk print out. Kebetulan yang mengedit essay tersebut adalah FM.  Setelah essay tersebut di edit, lalu FM memberikan essay tersebut kepada LL untuk di print. Entah karena pada saat pengerjaan tugas essay ankor itu juga dibarengi oleh banyaknya tugas mata kuliah lain atau karena FM lupa si OD adalah bagian dari PTB, ternayata FM lupa mencantumkan nama OD dalam tugas essay tersebut. Setelah tugas itu di print oleh LL, lalu FM mengambil capture cover tugas tersebut dan mengirim gambarnya ke Line kelompok PTB. Awalnya si FM dan LL tidak menyadari bahwa tidak ada nama OD di dalam tugas tersebut sampai OD mengirim pesan ke group chat tersebut dengan nada marah dan mengatakan bahwa dia tidak di anggap dan berniat untuk keluar dari group. FM lalu menjawab dengan mengatakan dia tidak sengaja dan akan menambahkan namanya dengan kalimat yang sepertinya membuat OD semakin jengkel. Saya tidak tahu apa saja isi dari perbincangan di chat Line tersebut  karena saya tidak punya gadget untuk bisa membuka Line, tapi yang jelas persetruan antara OD dan FM menyebar ke semua anggota kelompok PTB sehingga membuat anggota PTB yang lain ikut bingung dan juga ikutan jengkel. Ternyata si OD merasa tersinggung atas isi chat salah satu anggota PTB dan dia merasa bahwa di dimusuhi oleh semua orang anggota PTB. Disini kadang saya merasa senang tidak punya gadget bagus karena mungkin Cuma saya yang tidak ikut emosi membaca chat OD di group chat Line. namun karena teman – teman di PTB sadar bahwa berseteru itu tidak baik maka pada saat pengambilan kartu ujian pada hari senin 9 Juni 2015, bapak ketua PTB Tegar Wicaksana mengumpulkan kami walau tak semua hadir namun si OD hadir dan meminta semua orang untuk mengutarakan apa yang menjadi masalah atau apapun itu untuk disampaikan yang berkaitan dengan kelompok PTB. Maka mulailah si FM menyampaikan alasan mengapa dia tidak mencantumkan nama OD dalam tugas kelompok sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada OD. Begitupun dengan OD, dia juga menyampaikan mengapa dia tidak pernah hadir setiap kali PTB mengerjakan tugas kelompok  dan dia juga meminta maaf kepada semua orang di PTB yang merasa tersinggung dengan kata – kata dia di chat group Line. saya sendiri juga mengutarakan apa yang saya rasakan selama bekerja sama dengan mereka,  saya mengatakan bahwa ketua kami (Tegar) telalu loyo, maksud saya loyo dia tidak bisa mengambil kendali. Saya tidak tahu apa karena dia yang terlalu loyo atau karena FM yang terlalu mendiominasi. Saya awalnya berharap bahwa dia bisa menengahi masalah antara FM dan OD namun dia justru terkesan membiarkan dan akhirnya masalah antara FM dan OD berlarut – larut sampai 2 minggu. Tapi saya tetap respect pada bapak ketua karena dia adalah ketua kami dan dia adalah ketua yang baik namun memang kurang bisa mengambil kendali.  Kemudian untuk kelompok PTB, saya senang bisa bekerja sama dengan mereka. Teman – teman di PTB adalah orang – orang yang menyenagkan dan saya tidak kapok untuk  bisa bekerja sama dengan mereka lagi untuk tugas – tugas mendatang. Setelah semua orang mengutarakan isi hati dan fikiran nya masing – masing, akhirnya  bapak ketua PTB secara resmi membubarkan PTB setelah masalah kami semuanya telah clear dan kami pun saling berjaba tangan dan saling menyemangati agar sukses saat UAS nanti.

Kesimpulan

Dalam melakukan observasi ini memang sangat rumit birokrasi yang harus kami lalui khusunya Kepolisian. Saya bahkan berfikir bahwa jika untuk melakukan wawancara untuk tugas anti korupsi saja kami terkesan dipersulit bagaimana jika KPK ingin melakukan penyidikan di sana, pasti akan lebih parah lagi. Harusnya karena polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat harusnya mereka bisa lebih welcome saat ada masyarakat yang ingin bertemu dengan pejabat yang ada, jangan malah dipersulit. Jika kepolisian mempersulit, kesan nya mereka meminta ‘’sesuatu’’ jika ingin di muluskan dan itu adalah cikal bakal korupsi.  Banyak polisi yang dianggap seram oleh masnyarakat karena mereka  seringkali bersikap kurang ramah dengan masyarakat, misalnya saat kami ingin melakukan wawancara, polisi yang kami tanyakan rata – rata bermuka masam dan itu membuat saya sangat jengel. Katanya pengayom dan pelindung masyarakat, tapi saat bertemu masyarakat mereka justru menampilakan wajah yang tidak ramah, pantas saja polisi banyak musuhnya.

kemudian untuk kerjasama dengan team, saya merasa bahwa apa yang kami kerjakan sebagai sebuah team sudah cukup baik, hanya saja diakhir memang ada sedikit masalah internal yang kalau dilihat benang merah dari permasalahan ini memang miss communication. Untuk kedenpanya jika ada tugas keompok lagi, komunikasi antar angota kelompk memang sangat penting dan jika telah terjadi permasalahan harus segera di carikan jalan keluarnya agar masalah yang baru tidak akan muncul. Kemudian menurut saya salah satu dari kesalahan kami PTB dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh semua dosen matkul anti korupsi adalah tidak jelasnya pembagian tugas untuk masing masing member sehingga ada member yang bekerja lebih dibanding member lain.

Advertisements