Tags

Nama                            : Fahrurrozi

NIM                     : 1402045056

Program Studi            : Ilmu Hubungan Internasional A

Mata Kuliah                : Pendidikan Anti Korupsi

Pada perkuliahan semester dua ini kami mendapatkan mata kuliah pendidikan anti korupsi dan kami diberi tugas untuk melakukan wawancara mengenai anti korupsi pada instansi-instansi yang ada di Kalimantan Timur. Kelompok kami melakukan wawancara di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong di Samarinda yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat Samarinda.

Beberapa waktu sebelum melakukan wawancara, beberapa dari kami telah membuat janji terlebih dahulu bersama Bapak Ludi Fitrian selaku Kepala Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal. Setelah membuat janji, kami sepakat untuk melakukan wawancara di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong.

Pada awalnya kami membuat janji untuk melakukan wawancara pada pukul 08.30 pagi. Namun setelah kami datang dan menunggu beberapa saat ternyata Bapak Ludi Fitrian sedang ada rapat dan kemungkinan akan selesai dalam beberapa jam. Akhirnya kami diminta untuk datang lagi jam 3 sore setelah perkuliahan hari itu berakhir.

Kami melakukan proses wawancara selama kurang lebih dua jam. Bentuk wawancara yang kami lakukan bukan sekedar tanya jawab. Dari pihak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong telah menyiapkan presentasi dalam bentuk Microsoft Power Point dan penjelasan-penjelasannya yang diterangkan langsung oleh Bapak Ludi Fitrian.

Penjelasan-penjelasan yang telah dipaparkan sudah cukup jelas dan kami tetap memberikan beberapa pertanyaan yang masih terkait dengan penjelasan. Pertanyaan-pertanyaan seperti kemungkinan-kemungkinan yang masih bisa terjadi walau dengan sistem yang cukup efisien serta pertanyaan mengenai nama baik kantor pajak setelah adanya kasus yang melibatkan bidang perpajakan di Indonesia.

Bapak Ludi Fitrian sendiri telah menjelaskan mengenai bagaimana strategi pencegahan korupsi yang diterapkan, apa itu blind surveillance yang dipraktikan, bagaimana kerja dari blowing system, kemungkinan-kemungkinan yang masih bisa terjadi terkait tindakan korupsi, dan lain sebagainya. Selain Bapak Ludi Fitrian ada juga Bapak Basuki Hermawan selaku Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi yang menjadi pembicara dalam proses wawancara kami.

Hasil wawancara kami diawali dengan penjelasan Bapak Ludi Fitrian mengenai strategi untuk menghindari adanya tindakan korupsi yang diterapkan di kantornya. Diantarannya ada beberapa dari tugas unit kepatuhan intaernal antara lain pemantauan pengendalian internal; pemantauan pengelolaan/manajemen risiko; pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin pegawai; pemantauan tindak lanjut hasil pengawasan; perumusan rekomendasi perbaikan proses bisnis.

Pemantauan lebih banyak kepada aktivitas-aktivitas rutin dari permohonan wajib pajak, prosesnya berapa lama, dan sebagainya. Kemudian mengenai risiko-risiko yang telah di identifikasi diturunkan lagi apakah ada masih ada risiko-risiko yang mungkin timbul jangan sampai risiko-risiko tersebut malah menjadi besar.

Lalu pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin pegawai yang banyak ditakuti orang-orang karena biasanya menjadi inspeksi mendadak. Namun yang ditakutkan bukanlah masalah uang tetapi lebih kepada disiplin sebagai contoh yakni datang terlambat walau memang datang telat itupun akan mendapat potongan gaji.

Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong ada juga yang namanya blind surveillance. Jadi blind surveillance ini mereka mencoba untuk menyelidiki disuatu kantor kira-kira disana ada pelanggaran-pelanggaran kode etik serta disiplin atau tidak. Blind surveillance ini dapat berupa penyamaran seperti menjadi ghost customer dikantor-kantor dan hasilnya cukup efektif.

Cara memberantas tindak korupsi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong antara lain dengan blowing system. Blowing system dimulai dengan pengaduan internal maupun eksternal. Jadi dalam lingkup internal pun pegawai dapat melakukan pengaduan seperti mengadukan tindakan merugikan yang dilakukan oleh teman sendiri dikantor dengan bukti yang kuat pula.

Proses pengaduan dimulai dari masuknya pengaduan lewat aplikasi internal kemudian diolah oleh Direktorat Media Humas lalu hasil pengaduan masuk ke kantor pusat untuk diproses dan akhirnya bisa meminta bantuan KPK karena memang sudah sering bekerjasama. Bagi yang melaporkan tentu saja akan mendapatkan rewards dari tindakan benarnya.

Mengenai kemungkinan yang masih bisa terjadi terkait tindakan korupsi, Bapak Ludi Fitrian mengatakan tentu masih akan ada kemungkinan seperti itu. Dapat diibaratkan seperti menutup lubang-lubang, dengan sistem seperti itu lubang-lubang sudah tertutup. Kita tidak tahu lubang mana lagi yang belum tertutup.

Korupsi ini ibaratkan air, ia akan mencari celah-celah walau sudah ditutup rapat. Untuk sampai saat ini lubang-lubang tersebut sudah tertutup rapat karena memang sudah ketahuan. Karena bukan pihak luar yang menangkap tetapi malah teman sendiri. Jadi blowing system yang diterpakan sudah sangat berhasil.

Bapak Basuki Hermawan juga menambahkan bahwa kita disini harus bisa menjaga, tidak hanya menjaga diri sendiri tetapi juga menjaga teman dari tindakan-tindakan semacam itu. Artinya melapor disini merupakan yang istilahnya sudah sangat bandel sekali. Tahapan pelaporan tidaklah langsung melapor begitu saja. Pertama kita beri teguran dan nasehat terlebih dahulu.

Selanjutnya mengenai nama baik dan sisi positif dari Ditjen Pajak yang sempat rusak akibat kasus yang sempat mencuat di masyarakat Indonesia. Bapak Ludi Fitrian menerangkan bahwa itu memang tidak bisa disalahkan karena memang itu juga akibat dari peran media yang berbicara macam-macam dan cukup berlebihan. Kalau buat internal itu menjadi cambuk untuk menjadi lebih baik.

Belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi serta dari risiko-risiko yang mungkin timbul akibat kejadian tersebut. Jadi dari setiap kasus-kasus yang terjadi dipelajari oleh Ditjen Pajak untuk mengetahui apa-apa saja yang terjadi, bagaimana masalahnya dan lain sebagainya. Tidak acuh begitu saja terhadap kasus-kasus yang terjadi terkait dengan Ditjen Pajak. Harus berusaha mendapatkan akar permasalahannya.

Eksternalnya diharapkan peran dari para akademisi, media dan masyarakat untuk tetap mensupport Ditjen Pajak. Jangan sampai membuat masyarakat tidak mau lagi membayar pajak. Begitulah hasil pokok dari wawancara kelompok kami di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong bersama Bapak Ludi Fitrian dan Bapak Basuki Hermawan yang berlangsung sekitar dua jam.

Dari wawancara yang telah kami lakukan, saya merasa mendapatkan banyak wawasan mengenai Kantor Pajak. Mulai dari sistem internalnya, keadaan internalnya, kinerja internalnya dan lain sebagainya. Banyak yang belum saya ketahui kemudian didapat dari proses wawancara yang kami lakukan. Dan saya termasuk salut dengan sistem yang diberlakukan oleh Ditjen Pajak dalam memberantas tindakan korupsi.

Merupakan salah satu pengalam berharga bagi saya dapat melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi berwawasan di kantor yang cukup besar dan penting ini. Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong ini saya juga secara tidak langsung melakukan proses diplomasi yang merupakan salah satu pelajaran paling penting dalam program studi saya.

Pada awalnya memang saya cukup kaget bahwa ternyata kami disambut dengan penjelasan-penjelasan terperinci dengan menggunakan media Microsoft Power Point. Saya merasa seperti mendapatkan kuliah mengenai perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong ini.

Tidak hanya pemaparan tertulis yang ada dilayar namun juga pemaparan langsung dengan disertai contoh-contoh pengalaman yang pernah terjadi. Jadi pemaparannya tidak hanya teks konseptual biasa saja. Dengan adanya contoh-contoh dari hasil sistem yang telah diberlakukan maka membuat saya menjadi lebih yakin dengan pemaparannya.

Selain itu kami juga diberikan sebuah video yang sangat menarik dan membangkitkan semangat kita sebagai bangsa Indonesia. Video tersebut berasal dari KPK dan kami memasukkannya kedalam video hasil wawancara kami sebagai penutup yang mengesankan dan membangkitkan semangat kawan-kawan kami dikelas.

Tampak pada kawan-kawan kami di kelas, mereka mendengarkan dengan khidmat dan tampak sangat terkesan dan menyukainya. Dan presentasi kami saat dikelas pun sudah sangat jelas sehingga tidak ada teman-teman yang ingin menanyakan perihal presentasi kami selain karena suaranya yang kurang nyaring.

Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Terimakasih kepada Ibu Unis Wahyuni Sagena, M.Si., Ph.D., Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong, teman-teman sekelompok saya, dan teman-teman saya dikelas Program Studi Ilmu Hubungan Internasional A.

Advertisements