Tags

Nama             : Dwiki Yudistira Anggrianingtias

NIM               : 1402045066

Prodi              : Hubungan Internasional (A)

Pendidikan Anti Korupsi

  1. Perjalanan dan Hasil Wawancara

Saya merupakan bagian dari kelompok 7 atau bernama “Untouchable” yang di ketuai oleh Armin Beni Pasapan, dan beranggotakan Retitha Kurnianda, Rivaldi, Reno Veroliano Bakara, Aprin Tri Setyowati, Maghfira Ade Suciani, Jurmin dan saya sendiri, Dwiki Yudistira. Terkait tugas yang di berikan oleh Ibu Uni Wahyuni Sagena selaku Dosen Pendidikan Anti Korupsi.

Rabu, 29 April 2015 saat mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, kami berkumpul di depan kelas dan berdiskusi tentang instansi mana yang akan kita interview atau yang akan kita wawancarai, setelah itu kami memutuskan untuk pergi ke Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang berada dijalan A.W Syahranie, Perumahan Villa Tamarra dan Partai Gerindra yang berada di jalan yang sama seperti KNPI. Alasan kami mengapa kami memilih KNPI sebagai target yang akan di wawancarai, kami ingin mengetahui sebuah korupsi melalui sudut pandang organisasi kepemudaan. Dan alasan kami memilih Partai Gerindra adalah kami mendengar bahwa Partai Gerindra adalah Partai “bersih” sehingga kami tertarik untuk interview Gerindra itu sendiri dan meminta tips kepada petingginya bagaimana sih mencegah terjadinya korupsi dan bagaimana seharusnya tindakan pemerintah mengatasi korupsi tersebut.

Setelah jam kuliah usai saat pukul 09.30 kami berencana pergi ke KNPI terlebih dahulu dengan tujuan untuk membuat janji kepada petinggi disana untuk di wawancarai.

Sesampainya di KNPI, suasana disana sepi tidak ada mobil terparkir hanya ada 2 atau 4 motor terparkir di halaman depan, kami masuk kedalam, dan benar saja kami tidak menemukan para pengurus disana, namun kami menemukan seseorang dan kami bertanya mengenai pengurus di KNPI, lalu dia bilang bahwa para pengurus datang sekitar jam 12.00 atau lewat. Mendengar informasi itu kami langsung menuju gedung DPD Gerindra yang terletak di jalan yang sama. Sampainya di gedung DPD Gerindra suasanannya hampir sama namun kali ini ada dua mobil terparkir di depan, kami pun segera masuk kedalam gedung, dan kami mendapatkan informasi yang sama dari petugas disana.

Lalu kami memutuskan untuk kembali ke kampus karna ada mata kuliah statistika jam 11.20 sampai 12.3.

Usai kelas, kami kembali lagi mengunjungi KNPI dan Gerindra, saat kami sampai di KNPI, benar saja ada salah satu pengurus KNPI tersebut yang kebetulan dosen Hubungan Internasional, kami pun membuat janji kepada beliau untuk membuat janji kepada petinggi KNPI untuk di wawancarai, dan beliau menyetujui hal itu lalu meminta kami untuk kembali kesana pada tanggal 7 Mei 2015 jam satu siang. Lalu kami menuju DPD Partai Gerindra dan menemui salah satu pemimpin Partai Gerindra yang kebetulan saat itu ada di tempat. Kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan saat itu beliau ingin pulang dan beliau mau untuk di wawancarai namun karena maksud kedatangan kami awalnya hanya untuk membuat janji, kami tidak ada kesiapan untuk wawancara tersebut. Kami pun meminta beliau pada hari senin siang pukul 13.00 namun beliau terkesan menolak kami, ia beralasan ingin di wawancarai asal cuaca tidak hujan atau gerimis dan beralasan melakukan kerja bakti di jalan Antasari. Kami pun berpikir bahwa beliau tidak ingin di wawancarai dan menolak kami untuk mewawancarai, kami memutuskan untuk mewawancarai Wakil Ketua I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pada hari kamis pukul 13.00 WITA.

Pada hari Kamis, 07 Mei 2015 kami pergi ke kantor KNPI untuk melakukan wawancara dengan telah mempersiapkan pertanyaan dan konsep wawancara yang seperti apa.

Kami sampai di Kantor KNPI, namun beliau belum ada di tempat sehingga kami menunggu sekitar 30 menit di temani oleh pengurus tempo hari yang membuatkan kami janji kepada Bapak Wakil Ketua I. Beliau banyak bertanya kepada kami mulai maksud tujuan kami, kami berasal dari mana dan banyak lagi, diterimanya kami pun cukup baik. Karena beliau adalah kebetulan seorang dosen HI, kami banyak bertanya mengenai matakuliah Teori HI karena beliau pastilah sangat memahami betul tentang itu, dan beliau juga memberikan tips untuk kami berkuliah di fisipol serta tentang hal-hal yang berkaitan dengan Hubungan Internasional.

Lalu, tibalah narasumber kami bernama Bapak Arif Rahman Hakim S.Hi beliau menjabat sebagai Wakil Ketua I (Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi). Dalam wawancara ini kami memakai konsep diskusi yang dimana semua anggota kelompok untouchable berpatisipasi dalam mewawancarai narasumber.

Pertanyaan yang kami ajukan kepada beliau adalah sebagai berikut:

  1. Pendapat anda mengenai korupsi yang terjadi di indonesia?
  2. Sejak kapan sebaiknya pendidikan Anti Kourupsi di ajarkan?
  3. Apakah pernah terjadi tindakan korupsi di lingkungan instansi?
  4. Strategi apa yang paling tepat untuk menekan tindak korupsi?

Untuk pertanyaan pertama beliau menjawab “korupsi yang terjadi di indonesia sudah parah sekali, bahkan seperti sudah membudaya”. Dan jawaban dari pertanyaan yang kedua “pendidikan anti korupsi sendiri seharusnya sudah diajarkan sejak dini, beliau juga menyayangkan kenapa pendidikan anti korupsi baru di ajarkan di jenjang pendidikan tapi beliau mengapresiasi karena saat ini sangat sedikit pemuda yang  peduli tentang korupsi” dan pertanyaan ketiga beliau menjawab “sampai sekarang di KNPI Samarinda sendiri belum terjadi tindakan korupsi” dan jawaban terakhir ialah “strateginya ialah manajemen dan transparan . ketika manajemen yang dilakukan oleh suatu organisasi itu baik, tepat, dan transparan maka tindak korupsi itu bisa dikunci pergerakannya dan 4 hal yang sangat penting ialah organizing, planing, actualling, dan controlling”.

Dari wawancara tersebut kami banyak sekali mendapatkan ilmu tentang korupsi, cara pencegahan dan menekan pergerakan korupsi itu sendiri.

Dan kami mendapat pesan dari beliau bahwa “Jadilah Pemuda Yang Konsisten Untuk Selalu Melawan Tindak Korupsi  Perkuat Iman dan Perdalam Ilmu Pengetahuan untuk melawan Korupsi.

  1. Pengalaman Korupsi

Untuk pengalaman korupsi, saya pernah melakukannya yaitu dengan menitip absen kepada teman kelas agar tidak banyak yang dicoret dan menghindari TBU atau tidak boleh ujian dan membuat SIM dengan cara yang instan yaitu membayar petugas setempat denga  uang Rp.200.000. dengan melakukan tindakan korupsi tersebut saya menyesali perbuatan saya karna saya sadar melakukan korupsi itu tidaklah baik, dan saya akan menghilangkan kebiasaan saya yang suka titip absen kepada teman kelas.

Advertisements