Tags

NAMA                        :           Ayu Lintya Ningrum

NIM                :           1402045034
Hubungan Internasional -A

Pada mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang di bina ibu Unis, saya diberi tugas kelompok untuk melakukan wawancara ke instansi pemerintahan maupun partai politik untuk mengetahui apakah di instansi atau partai politik tersebut pernah terjadi tindak korupsi, dan sekaligus mengetahui penangannan dan pencegahannya. Saat melakukan tugas tersebut saya sekelompok dengan Bella Arisandy, Asih Dewi Lestari, Nur Widya Oktaviana, Yessi Adeynasaputri, Mita Azrina , dan Fahrurrozi, nama kelompok saya dan teman – teman saya adalah The Bulletproof.

Saya dan teman – teman pun memutuskan untuk melakukan wawancara di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong, karna kantor pajak merupakan salah satu sumber terbesar pendapatan negara, tentunya banyak yang ingin diketahui dari hal tersebut, dan juga banyak nya kasus tindak korupsi yang terungkap banyak yang melibatkan pegawai pajak, contohnya sebut saja kasus Gayus Tambunan salah satu pegawai pajak yang terungkap melakukan tindak korupsi. Selain itu saya mengajak teman saya untuk melakukan wawancara di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong juga karena kebetulan ibu saya bekerja di instansi tersebut, dan saya berharap agar lebih dimudahkan untuk melakukan wawancara di instansi tersebut.

Saya dan kelompok saya mulai melakukan perjalanan wawancara mulai hari senin 27 April 2015, saya dan kelompok saya bermaksud untuk meminta izin wawancara dan membuat janji temu untuk melakukan wawancara. Setelah sampai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong saya dan kelompok menemui Bapak Ludi Fitrian selaku Ketua Unit Kepatuhan Internal KPP Pratama Tenggarong, dan memberi tahu maksud kedatangan kami ke instansi tersebut, Pak Ludi saat itu ditemani oleh Bapak Affan, beliau juga salah satu pegawai di instansi tersebut. Akhirnya setelah berbicara beberapa lama, Pak Ludi pun memutuskan untuk melakukan wawancara di hari Kamis jam 8.30.

Pada hari melakukan wawancara yaitu hari kamis, 30 April 2015, jam 08.30 saya dan anggota kelompok telah berkumpul di KPP Pratama Tenggarong akan tetapi setelah menghubungi Pak Ludi ternyata beliau tidak bisa bertemu sampai jam 11.00 karena ada rapat mendadak. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu akan tetapi sekitar jam 10.30 , Pak Ludi mengabari lagi bahwa rapatnya diperpanjang sehingga beliau baru bisa ditemui setelah jam 13.00. Tetapi saya dan yang lainnya ada kelas mata kuliahSistem Ekonomi Indonesia, jadi kami meminta untuk memundurkan janji temu jadi jam 14.30. Jadi setelah jam 14.30 setelah mata kuliahnya selesai saya dan kelompok langsung bergegas menuju Kantor Pratama Tenggarong.

Selain Pak Ludi disana juga ada Pak Beni Tito yang akan melakukan presentasi, dan presentasi tersebut juga akan dilanjutkan oleh Pak Ludi. Karna sebelumnya pada hari Senin saya dan kelompok sambil meminta izin juga sudah memberi gambaran pada Pak Ludi tentang pertanyaan yang akan kami ajukan, kemudian Pak Ludi memberi saran bahwa beliau nanti akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dengan sistem wawancara biasa yang hanya duduk dan langsung saja menjawab pertanyaan akan tetapi pihak instansi akan menyiapkan bahan presentasi dari Dirjen Pajak, beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan melalui penjelasan yang akan dipaparkan oleh beliau. Berikut adalah pertanyaan yang kami sampaikan:

  1. Apa saja visi dan misi dari Dirjen Pajak atau KPPPT?
  2. Apa saja tata tertib kepagawaian yang berlaku di KPPT?
  3. Apakah pernah terjadi pelanggaran terhadap tata tertib tersebut?
  4. Bagaimana startegi pencegahan tindak korupsi di KPPT?
  5. Apakah strategi tersebut telah efektif diterapkan di KPPPT?
  6. Bagaimana KPPPT menyikapi kasus besar korupsi yang pernah terjadi di Dirjen Pajak seperti kasus Gayus Tambunan?
  7. Apa pengaruh kasus tersebut terhadap Dirjen Pajak di mata masyarakat?
  8. Bagaimana KPPPT menyikapi para wajib pajak yang berusaha untuk mengurangi beban pajaknya yang berimbas juga terhadap perilaku korupsi yang dilakukan oleh para pegawai Dirjen Pajak?

Sebelum memulai presentasi Pak Basuki datang memasuki ruangan wawancara, beliau merupakan pejabat sementara Kepala Kantor, karna instansi tersebut sedang terjadi pergantian kepala kantor. Beliau juga sedikit memberikan penjelasan tentang DJP dan tindak korupsi yang pernah terjadi di DJP.

Kemudian kamipun memulai wawancara, yang dimulai dengan presentasi dari Pak Beni, yang menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan korupsi serta gratifikasi kemudian mengenai visi dan misi Dirjen Pajak. Visi DJP adalah menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak negara terbaik di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan misi DJP adalah menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dengan menerapkan UU Perpajakan secara adil dalam rangka membiayai penyelenggaraan negara demi kemakmuran rakyat. DJP juga menanamkan nilai-nilai Kementrian Keuangan seperti Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan.

Setelah itu presentasinya dilanjutkan oleh Pak Ludi, beliau menjelaskan bahwa DJP memiliki sistem pengendalian intern pemerintah yang merupakan proses integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundangan. Kemudian apabila terjadi pelanggaran akan dilakukan evaluasi terpisah kemudian dilakukan tindak lanjut serta pemantauan berkelanjutan. DJP juga menanamkan 5 budaya kerja yaitu satu informasi perhari, dua menit sebelum jadwal, tiga salam perhari, plan, do, check, act (PDAC), dan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin). Terkait dengan pelanggaran di KPP Pratama Tenggarong, beliau berkata bahwa selama ini di kantor tersebut tidak ada pelanggaran yang melibatkan korupsi uang akan tetapi lebih kepada korupsi waktu, tentu saja ada hukumannya sesuai dengan PP no.53 tahun 2010 mengenai hukuman disiplin PNS misalnya adanya empat layer pemotongan penghasilan bahkan pemecatan dari jabatan.

Strategi anti korupsi yang paling mutakhir yang diterapkan oleh DJP adalah Whistle Blowing System adalah sistem pengaduan yg ada di DJP yang menampung laporan ataupun pengaduan terhadap dugaan penyelewengan yang dilakukan oleh pegawai pajak dalam melaksanakan tugasnya. Cara kerjanya adalah, pengawasan terhadapa sesama pegawai DJP. Misalnya, saat B mengetahui bahwa A melakukan tindak korupsi, B bisa langsung melaporkan kepada DJP melalui aplikasi whistle bloeing system yang ada di website kementrian keuangan akan tetapi bisa juga langsung ke unit kepatuhan internal yang ada di kantornya. Akan tetapi dalam melaporkan memang harus disertai dengan bukti yang kuat bahwa A benar melakukan tindak korupsi agar tidak terjadi kesalahan penangkapan. Kemudian untuk B yang melaporkan A tentu saja ada reward yang bisa diperolehnya, dapat berupa material (uang misalnya), pilihan kembali ke homebasenya (ia domisili Surabaya akan tetapi bekerja di kantor cabang Samarinda, ia bisa meminta untuk kembali bekerja di Surabaya), dan tentu saja B yang melaporkan tindak korupsi itu akan dilindungi identitasnya. Jadi pada dasarnya adalah saling mengawasi antar pegawai karena menurut DJP, pengawasan yang dilakukan oleh teman sendiri itu pasti akan lebih efektif daripada hanya melakukan sidak. Selama ini di KPP Pratama Teggarong belum pernah terjadi pelaporan melalui sistem ini. Akan tetapi sekali lagi sistem ini bukan berarti apabila ada pegawai yang melakukan sedikit kesalahan akan langsung di hukum, tentunya melalui proses peringatan terlebih dahulu dan kalau masih bandel juga tentu akan segera ditindak lanjuti.

Kesimpulan yang saya ambil dari wawancara tersebut adalah pihak DJP serta KPP Pratama Tenggarong telah berusaha untuk menghindarkan para pegawainya dari tindak korupsi, entah itu korupsi waktu maupun korupsi-korupsi yang lainnya, dari yang kita tahu korupsi itu terjadi bukan karna niat tetapi karna ada kesempatan, dan juga korupsi itu tidak terlepas dari hati nurani orang yang melakukan tindak korupsi.

Saya dan kelompok melakukan presentasi pada hari Rabu, 23 Mei 2015, karena pada pertemuan sebelumnya, kelompok kami masih belum siap. Pada pertemuan tersebut Ibu Unis tidak bisa hadir di kelas. Dan sayangnya pada saat presentasi, suara dari video wawancara tidak terdengar dikarenakan tidak ada kesiapan membawa sound system, dan akhirnya video wawancara tersebut harus di skip dan langsung menuju ke video aku peduli, itu pun dengan bantuan suara dari Fahrurrozi, memang sedikit membuat kecewa saya dan teman-teman sekelompok.

Dengan selesainya tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua pihak, kepada Ibu Unis, Bapak Ludi Fitrian, Bapak Basuki Hermawan, Bapak Beni Tito, Ibu saya Lili Jumiati, teman-teman Hubungan Internasional A 2014, terutama teman-teman satu kelompok saya The Bulletproof, serta Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dalam melaksanakan tugas ini. Sekian

Advertisements