Tags

Nama        : Asih Dewi Lestari

Prodi        : HI(A 2014)

Nim          : 1402045014

Team         : The Bulletproof

Salah satu mata kuliah yang diajarkan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman adalah Pendidikan Anti Korupsi, yang baru saja diperkenalkan pada mahasiswa angkatan 2014. Mata kuliah pendidikan anti korupsi ini di pegang oleh Ibu Unis sebagai dosen untuk kelas kami yaitu kelas hubungan internasional (reguler A 2014). Beliau  pun memberikan tugas untuk mewawancarai beberapa instansi pemerintahan atau partai politik yang ada di Samarinda untuk mengetahui secara umum apakah di instanti-instansi tersebut pernah terjadi tindak korupsi, serta penanganan dan pencegahannya.

Nama yang kami pilih untuk team kami dalam tugas pendidikan anti korupsi ini adalah The Bulletproof. Diskusi pun kami lakukan untuk menentukan instansi mana yang akan kami wawancarai. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mewawancarai salah satu kantor pajak di Samarinda, yaitu Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong. Narasumber kami dalam wawancara tersebut adalah Bapak Ludi Fitrian (Ketua Unit Kepatuhan Internal KPPPT), Bapak Basuki Hermawan (Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPPPT selaku Pejabat Pengganti Kepala Kantor KPPPT), serta Bapak Beni Tito.

Langkah kami dalam pelaksanaan wawancara tersebut terbilang lancar. Kami tidak menghadapi banyak kendala dalam melakukan tugas wawancara tersebut, karena dari pihak  KPPPT sendiri sangat bekerjasama dalam wawancara tersebut walaupun sempat ada sedikit perubahan jam dalam pelaksanaan wawancara dari jam yang sudah disepakati sebelumnya.

Awal perjalanan kami dimulai pada hari Senin, 27 April 2015. Sepulang kuliah sekitar pukul 14.15 kami pergi ke KPPPT untuk membuat janji pertemuan dan meminta izin melakukan wawancara disana. ketika kami sampai di KPPPT, kami pun disambut oleh Bapak Ludi Fitrian selaku Ketua Unit Kepatuhan Internal KPPPT. Dengan pembawaan yang ramah beliau menyambut kedatangan kami. Setelah kami mengatakan perihal kedatangan kami yaitu untuk meminta janji bertemu untuk melakukan wawancara sebagai tugas dari mata kuliah pendidikan anti korupsi, beliau sangat mendukung dan merespon baik bahkan sebenarnya kami bisa saja langsung melakukan wawancara saat itu juga akan tetapi karena kami belum memiliki surat pengantar tugas dari fakultas akhirnya kami memutuskan utntuk bertemu kembali di hari Kamis, 30 April 2015 pada pukul 08.30.

Kamis 30 April 2015 adalah jadwal kami untuk wawamcara. Pada pukul 08.30 kami telah berkumpul di KPPPT untuk bersiap melaksanakan tugas wawancara. Akan tetapi setelah kami menghubungi Pak Ludi ternyata beliau tidak dapat bertemu dengan kami sampai pukul 11.00 karena ada rapat mendadak untuk membahas pergantian kepala kantor. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Akan tetapi tak lama kemudian sekitar pukul 10.30 , Pak Ludi memberi kabar pada kami lagi bahwa rapatnya diperpanjang, sehingga beliau hanya dapat ditemui setelah pukul 13.00, akan tetapi karena kami pun ada kelas sistem ekonomi pada pukul 13.00, sehingga wawancara pun kami mundurkan menjadi pukul 14.30. Sepulang kuliah kami segera bergegas menuju KPPPT, disana Pak Ludi didampingi oleh Pak Beni. Sebelumnya pada hari Senin kami telah memberikan gambaran tentang pertanyaan apa saja yang akan kami ajukan, kemudian Pak Ludi memberi saran bahwa beliau nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dengan sistem wawancara biasanya yang hanya duduk dan berbincang akan tetapi pihak KPPPT akan menyiapkan bahan presentasi dari Dirjen Pajak serta beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan melalui penjelasan yang akan dipaparkan oleh beliau.

Wawancara pun dibuka dengan presentasi dari Pak Beni yang memberikan penjelasan apa yang dimaksud dengan korupsi serta gratifikasi kemudian beliau menjelaskan mengenai visi dan misi Dirjen Pajak. Kemudian presentasi dilanjutkan oleh Pak Ludi. Di DJP menanamkan 5 budaya kerja yaitu satu informasi perhari, dua menit sebelum jadwal, tiga salam perhari, plan, do, check, act (PDAC), dan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin). Ada atau tidak pelanggaran yang pernah terjadi di KPPPT, beliau mengakata bahwa selama ini di kantor tersebut tidak ada terjadi pelanggaran yang melibatkan korupsi uang akan tetapi lebih kepada kode etik misalnya main waktu. Kemudian beliau pun juga memberikan sebuat quotes yang sangat bijaksana yaitu “jangan membenarkan yang biasa, akan tetapi membiasakan yang benar”. Kalau kita telah terbiasa membiasakan yang benar maka kecurangan-kecurangan yang ada akan berkurang dan bahkan hilang.

Kemudian selanjutya yang akan membahas tentang strategi anti korupsi yang diterapkan oleh Dirjen Pajak. Metode pemantauan yang dilakukan oleh DJP yaitu, di setiap kantor pajak biasanya akan melakukan sidak untuk mengetahui apakah terdapat pelanggaran-pelanggaran di kantor tersebut. Survey wajib pajak, apakah data-data telah sesuai dengan yang ada. Lalu ada metode Blind surveillance yaitu menyelidiki suatu kantor pajak dengan menyamar sebagai wajib pajak, meode ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada pegawai DJP yang ‘nakal’ terhadap wajib pajak saat melaksanakan tugasnya. Metode ini telah berhasil menemukan pegawai-pegawai pajak yang nakal.

Strategi anti korupsi yang paling ampuh yang diterapkan oleh DJP adalah Whistle Blowing System, yaitu sistem pengaduan yang ada di DJP yang menampung laporan ataupun pengaduan terhadap dugaan penyelewengan yang dilakukan oleh pegawai pajak dalam melaksanakan tugasnya. Cara kerjanya adalah, pengawasan terhadapa sesama pegawai DJP. Misalnya, saat B mengetahui bahwa A melakukan tindak korupsi, B bisa langsung melaporkan kepada DJP melalui aplikasi whistle bloeing system yang ada di website kementrian keuangan akan tetapi bisa juga langsung ke unit kepatuhan internal yang ada di kantornya. Akan tetapi dalam melaporkan memang harus disertai dengan bukti yang kuat bahwa A benar melakukan tindak korupsi agar tidak terjadi kesalahan penangkapan. Kemudian untuk B yang melaporkan A tentu saja ada reward yang bisa diperolehnya, dapat berupa material (uang misalnya), pilihan kembali ke homebasenya (ia domisili Surabaya akan tetapi bekerja di kantor cabang Samarinda, ia bisa meminta untuk kembali bekerja di Surabaya), dan tentu saja B yang melaporkan tindak korupsi itu akan dilindungi identitasnya.

Kesempatan selanjutnya kami mengajukan dua pertanyaan tambahan, yaitu yang pertama adalah dengan sistem yang telah tersruktur dan sistematis tersebut apakah masih ada kemungkinan bahwa pegawai pajak akan tetap melakukan korupsi? Pak Ludi pun menjawab, bahwa yang namanya tindakkan korupsi itu seperti air. Walaupun sudah ditutup jalannya dia pasti masih saja mencari celah untuk keluar. Nah, bagitu pula dengan kasus korupsi. Saat telah ditanggulangi satu kasus, telah ditutup lubangnya, timbul lagi satu kasus baru. Jadi tugas mereka adalah mencari tahu apa sebenarnya akar permasalahannya, apa latar belakang perbuatan tersebut sehingga nantinya mereka akan melakukan perbaikkan lagi untuk berusaha agar tindakkan tersebut tidak terulang kembali. Hal tersebut juga menjadi bukti bahwa sebagus apapun sistem yang telah diterapkan, akan kembali lagi kepada hati nurani individu yang menjalakannya.

Pertanyaan yang kedua adalah terkait peranan media massa yang sangat menyoroti tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan serta kasus-kasus lainnya di DJP yang menjadikan citra DJP negatif di mata masyarakat sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahui sisi psitif dari DJP, bagaimana KPPPT menyikapi hal tersebut? Dijawab oleh Pak Ludi serta Pak Basuki bahwa memang benar peran media massa sangat besar menyoroti kasus Gayus Tambunan lalu, namun hal ini sekali lagi menjadikan motivasi kepada DJP serta KPPPT untuk lebih baik lagi. Karena seperti analogi bahwa kertas yang putih bersih apabila terkena noda setitik saja maka kertas itu tidak terlihat putih sempurna lagi yang menjadikannya terlihat kotor, begitu pula instansi-instansi di pemerintahan ini, semuanya awalnya didirikan tentu dengan niatan yang baik akan tetapi kebaikan itu jika telah dirusak oleh satu orang saja maka pasti terlihat jelek juga. Sudah tidak bisa dihindari lagi, akan tetapi hal tersebutlah yang memacu DJP lebih baik lagi agar tidak ada Gayus yang lainnya. Akibat kejadian tersebut sempat timbul aksi yang menyatakan untuk boikot pajak, bagaimana hendak memboikot pajak sedangkan  hampir 80% penghasilan negara kita ini berasal dari Pajak. Jadi memang peran media massa sangat besar akan tetapi mereka juga sering melakukan sosialisasi agar wajib pajak rajin membayar pajaknya, bahwa sebenarnya membayar pajak itu juga untuk kebaikkan bersama dan akhirnya saat ini hasilnya sudah lumayan baik. Kepercayaan itu sudah mulai kembali. Pak Ludi juga menambahkan bahwa korupsi itu adalah tindakan komunal yang negatif, dan di KPPPT sendiri terus berusaha agar tindakan komunal yang dilakukan oleh para pegawainya adalah tindakan yang positif seperti melakukan senam pagi setiap hari Jum’at di lapangan parkir KPPPT, melakukan sosialisasi anti korupsi, dan lain sebagainya.

Pak Ludi juga menunjukan pada kami sebuah video berjudul Aku Peduli dari DJP yang digunakan untuk mensosialisasikan anti korupsi. Kami yang menyaksikannya sangat tersentuh dengan apa yang disampaikan oleh video tersebut, benar-benar sangat memotivasi untuk berbenah diri agar menjadi individu yang berguna bagi nusa dan bangsa. Dengan susainya video Aku Peduli tersebut, maka selesai juga tugas wawancara kami kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong pada Senin, 30 April 2015 pukul 17.00.

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari wawancara tersebut adalah bahwa baik pihak DJP maupun dari pihak KPPPT telah beruhasa untuk menghindari adanya tindakan korupsi pada para pegawainya. Di KPPPT sendiri telah memiliki strategi yang cukup ampuh untuk mencegah terjadinya tindakan korupsi seperti yang telah disebutkan diatas. Peran media massa sendiri sangat berpengaruh terhadap kelangsungan DPJ. Tindakan korupsi sendiri tidak lepas hari hati nurani individu masing-masing. Maka kami mengutip dari apa yang disampaikan oleh Pak Ludi  bahwa kita hendaknya jangan membenarkan yang biasa, akan tetapi membiasakan yang benar dengan begitu diharapkan kita semua akan menjadi pemuda penerus bangsa yang Anti Korupsi.

Advertisements