Tags

NAMA  :               Aprin Tri Setyowati

NIM       :               1402045022

PRODI   :               HUBUNGAN INTERNASIONAL-A

ESAI ANTI-KORUPSI

“Waktu, Kunci Cegah Korupsi Sejak Dini”

Esai ini di awali dari tugas mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang di ampuh oleh Ibu Uni Wahyuni Sagena, M.Si., P.hD  yang mengisi tengah semester kedua terakhir setelah sebelumnya di ampuh oleh Ibu Enny Faturachmi, S.IP, MA.

Sebelum tugas esai ini, kami Mahasiswa HI Angkatan 2014 mendapat tugas-tugas lain yang berhubungan dengan KORUPSI. Analisis kasus korupsi, mengklasifikasikan jenis-jenis korupsi, diskusi kelompok merupakan tugas-tugas yang sering kami lakukan.

Namun, dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut sebelumnya kami di arahkan untuk membagi seluruh anggota kelas ke dalam beberapa kelompok. Selanjutnya, kami akan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan secara berkelompok. Saya sendiri tergabung ke dalam Kelompok UNTOUCHABLE bersama Armin, Reno, Jurmin, Rivaldi, Retitha, Dwiki dan Vera.

Dari sekian banyaknya tugas yang diberikan, ada dua tugas yang saya anggap menarik dan menantang untuk dilakukan, yaitu tugas publikasi korupsi dalam bentuk apa saja  (video, poster, karikatur, stiker) yang diberikan oleh Ibu Enny dan tugas wawancara ke instansi-instansi pemerintah mengenai korupsi yang diberikan oleh Ibu Unis.

Kami memilih video sebagai tugas yang diberikan oleh Ibu Enny. Tugas publikasi korupsi dalam bentuk video ini menarik karena mempunyai kelebihan dalam membuatnya. Kami dipersilakan untuk membuat video tersebut dalam bentuk apapun, menggunakan aplikasi pembuat video manapun dan semua kreativitas dan ide-ide, kami dituangkan ke dalam video tersebut yang tujuan utamanya adalah mengajak masyarakat luas untuk mengenal korupsi itu seperti apa dan menghindarinya. Bisa dibilang video yang kami buat tersebut bentuknya hampir mirip dengan iklan layanan masyarakat, tentunya dengan kemasan yang lebih menarik.

Kemudian tugas yang kedua adalah wawancara mengenai korupsi oleh Ibu Unis. Kami yang memang sudah berkelompok dari awal di instruksikan untuk menyebar ke beberapa instansi pemerintah yang berada di Kota Samarinda dengan maksud agar tidak ada kelompok yang mewawancarai instansi yang sama sehingga tugas kami pun tidak hanya fokus ke instansi tersebut tetapi juga instansi lainnya. Kami mendapat situasi unik ketika melakukan wawancara tersebut terutama pada prosesnya dan hal ini sangat menarik untuk sedikit di ulas. Berikut kejadiannya.

Setelah berunding cukup lama kami memutuskan untuk melakukan wawancara ke dua instansi yakni, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Partai Gerindra. Sebelum melakukan wawancara kami harus membuat janji terlebih dahulu dan untuk itu pada tanggal 29 April 2015 kami mendatangi secara langsung dua instansi tersebut karena jalur yang searah pula.

Pertama, kami menuju Kantor KNPI Samarinda. Sayangnya, pejabat yang ingin kami temui tidak ada di tempat. Alasan yang kami terima dari salah seorang anggota yang baru ‘satu-satunya’ berada di kantor tersebut adalah beliau belum datang karena belum masuk jam kerja yang biasa dilakukan oleh pejabat yang bersangkutan. Dampaknya kami tidak bisa membuat janji untuk melakukan wawancara seperti rencana awal.

Kedua, kami mendatangi Kantor DPD Partai Gerindra yang bertempat di Perumahan Villa Tamara.  Lagi-lagi kami mendapati hal yang sama. Pejabat yang mau kami temui dan buat janji belum juga ada di tempat. Dan lagi-lagi kami menerima alasan yang sama dengan pengurus yang saat itu menerima kami, yakni beliau belum datang karena belum masuk jam kerja beliau yang biasa. Akhirnya, kami berbalik ke kampus untuk melanjutkan perkuliahan dan berencana untuk kembali lagi membuat janji kepada kedua instansi tersebut pukul 1 siang.

Meskipun pada akhirnya kami bisa membuat janji wawancara hanya dengan KNPI. Tetapi, kami cukup puas. Karena di DPD Gerindra kami seperti dipersulit untuk mendapatkan akses untuk melakukan wawancara dan kedatangan kami seolah-olah tidak di inginkan oleh mereka. Kami berpikir maklum karena topik yang kami bahas adalah mengenai korupsi.

 

Dari penggalan cerita di atas, bisa di ambil satu contoh kecil korupsi yang besar dampaknya. Apa itu ? KORUPSI WAKTU!

Ya, benar sekali. Korupsi waktu adalah jenis korupsi yang sering di lakukan tanpa sadar oleh kebanyakan orang.  Melalui contoh tadi, banyak pengurus yang belum masuk kerja padahal hari sudah beranjak siang dan itulah saat yang tepat untuk bekerja. Namun pada kenyataannya masih banyak orang-orang yang tidak masuk kerja dengan beralasan bahwa mereka biasa bekerja pada jam-jam karet atau menjelang siang. Ini berarti, mereka juga tidak bisa menjalankan kewajibannya dalam bekerja. Hal ini merupakan kebiasaan buruk yang harus di ubah.

Mengulur waktu, membuang waktu,  menyia-nyiakan waktu dan menyepelekan waktu adalah bentuk-bentuk dari korupsi waktu Banyak yang tidak mengetahui jika hal itu adalah suatu kebiasaan lumrah untuk di lakukan atau anggapan yang menyatakan bahwa hal itu tidak berpengaruh besar terhadap kehidupan. Padahal sebenarnya sesuatu itu harus di cegah melalui hal yang paling dasar.

Langkah preventif lainnya adalah menjadi contoh bagi orang lain, terlebih kepada generasi selanjutnya untuk mengurangi dan menghilangkan kebiasaan buruk tersebut. Melalui contoh yang baik di harapkan hal itu bisa menjadi tolak ukur perubahan bagi masyarakat. Sosok pemimpin yang menghargai waktu juga akan membawa perubahan besar bagi  masyarakat yang dipimpinnya. Apalagi masyarakat Indonesia memiliki budaya untuk menjadikan pemimpin sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Apa yang di lakukan pemimpin itu pula yang akan di lakukannya. Jadi, peran pemimpin juga mempengaruhi dalam pemberantasan bibit-bibit korupsi sejak dini.

Advertisements