Tags

,

PERJALANAN WAWANCARA KE KANTOR KAMAR DAGANG INDUSTRI KOTA SAMARINDA

Sebagai mahasiswa semester dua program studi Ilmu Hubungan Internasional kami memiliki mata kuliah yang sebenarnya cukup sederhana namun memiliki makna yang luar biasa,Pendidikan Anti Korupsi. Pendidikan Anti Korupsi memang terdengar pelajaran yang sangat sederhana dengan inti bahwa sebagai rakyat Indonesia yang berbakti terhadap negara kita tak boleh melakukan tindak kejahatan korupsi. Namun, dengan adanya pelajaran ini, kami khususnya benar-benar mengerti bahwa tindak kejahatan korupsi memang sudah menjadi penyakit di negara ini. Indonesia bukan hanya sedang dalam kondisi darurat narkoba, namun korupsi juga sudah menjadi salah satu kondisi darurat dinegeri bumi pertiwi ini. Melalui pelajaran ini kami benar-benar mengerti bahwa korupsi merupakan tindak kejahatan yang memiliki efek sangat besar terhadap kondisi bangsa ini. Anak-anak kelaparan, terlantar, tidak sekolah dan tidak mampu memiliki kehidupan yang layak juga difaktori oleh tindak korupsi yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu di pemerintahan yang terus menerus memangkas anggaran untuk kesejahteraan rakyat. Pendidikan Anti Korupsi juga mengajarkan kami bahwa apa yang didapat dari hasil korupsi tidaklah sebanding dengan sangsi social yang akan kita dapatkan, apalagi ketika kasus korupsi yang kita lakukan mulai menyeruak kepermukaan media. Mata kuliah ini diempu oleh dua dosen yang sangat cantik, yang pertama Ibu Eni Faturachmi dan yang kedua Ibu Unis Sagena. Metode mereka mengajar pun sangat variatif, karena kita benar-benar diajak untuk have fun namun tetap dalam control belajar. Ibu-ibu ini meminta kita untuk membuat video, mempresentasikannya dan membuat topic yang dapat diperdebatkan sehingga kelas tidak terkesan datar dan membosankan. Khususnya jika dikela mulai terjadi perdebatan hanya karena hal-hal kecil. Hebatnya, perdebatan itu tidak lantas membuat kita merenggang namun semakin membuat kita mengenali teman-teman kita dikelas. Suatu waktu ibu Unis meminta kita untuk melakukan perjalanan wawancara terhadap instansti instansi tertentu yang berkaitan tentang korupsi. Perjalanannya yang ditanyakan juga sangat general, namun dari perjalanan itu kelompok kami mendapat pelajaran yang sangat berarti. Kelompok kami yang didominasi laki-laki sebenarnya sangat susah untuk benar-benar mengatur jadwal pertemuan agar dapat bisa cepat mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen kami ini. Hingga pada akhirnya, kami memutuskan bahwa tidak semua anggota kelompok harus berangkat. Hanya beberapa orang saya yang berangkat, diantaranya si juru kamera, si penanya dan satu lagi yang meng-handle seluruh kegiatan hubungan masyarakat dengan kantor tersebut. Pada awalnya kami berembuk untuk memutuskan instansi mana yang hendak kami datangin. Akhirnya keputusan tercapai, kami berniat menuju kantor KPU alias Komisi Pemilihan Umum. Namun, beberapa hari kemudian kami pun mengurungkan niat kami dikarenakan salah satu anggota kami memberikan info bahwa instansi tersebut sedang benar-benar sibuk dikarenakan mengurusi PEMILUKADA yang akan dilaksanakan serentak pada bulan desember 2015 ini. akhirnya kami berembuk lagi untuk mencari pengganti instansti tersebut, beberapa nama instansi sempat disebut dalam musyawarah kami. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke Kantor Kamar Dagang Industri kota Samarinda. Banyak pertimbangan mengapa akhirnya kami memilih instansi ini, salah satunya karena kami memiliki kenalan di kantor tersebut sehingga kami bisa meminta bantuan kepada beliau. Namun, Kamar Dagang Industri atau yang disingkat KADIN ini benar-benar harus sesuai prosedur. Walaupun terkesan dibantu oleh salah satu anggota KADIN, kami tetap dimintai Surat Tugasoleh mereka. Kami juga benar-benar melalui prosedur, dimana untuk bertemu dengan kepala KADIN kami harus menemui sekretaris beliau terlebih dahulu untuk melapor dan mengatur jadwal pertemuan kami. Kami pun mengatur jadwal dan memutuskan untuk bertemu dengan Kepala KADIN pada tanggal 3 Mei 2015. Namun lagi-lagi ada kendala yang menimpa kami. Kami yang hendak melakukan wawancara baru menyadari bahwa kami juga disuruh merekam hasil wawancara kami, sehingga kami sadar bahwa tidak ada satuupun dari anggota kami yang memiliki kamera. Kami punbingung setengah mati, hingga akhirnya kami menyerah dan menghubungi pihak KADIN untukmembatalkan wawancara kami pada hari itu.Sempat terjadi kenaikan emosi diantara kami, namun semuanya mampu dikendalikan dengankepala dingin. Akhirnya kamu mengatur ulang jadwal pertemuan, dan mengubahnya menjadihari selasa, 04 Mei 2015. Sat itu yang berangkat hanya 3 orang, yaitu Joko Permono sebagai Kameramen, Faroza Satria sebagai pewawancara dan Alvin Fazrien sebagai penyambung hubungan kami dengan KADIN. Anggota kelompok lain tidak ikut kesana dikarenakan pada hari tersebut hujan turun dengan derasnya, dan akhirnya kami memutuskan agar yang pergi ke KADIN yang rumahnya dengan kantor KADIN saja. Saat di KADIN, teman-teman menceritakan bahwa KADIN menyambut mereka dengan hangat. Tanpa berbasa-basi berikut ini pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman saat mewawancari Kepala KADIN, bapak……………

– Jadi, kami ingin bertanya apakah sempat terjadi kasus korupsi di instansi ini?’

– Jadi karena tidak bermasalah bapak itu mengatur anak buahnya seperti apa sehingga tidak terjadi korupsi di instansi bapak?

Dari hasil wawancara tersebut, didapat jawaban bahwa di KADIN tidak pernah terjadi tindakan korupsi, dikarenakan mereka memakai uang pribadi mereka dalam segala urusan. Kepala KADIN tersebut juga menjelaskan bahwa KADIN merupakan kumpulan pengusaha yang bergerak dibidang perdagangan dan industri sehingga KADIN pun merupakan sebatas perkumpulan saja. KADIN tidak mendapatkan uang dari negara, bahkan tidak kecipratan anggaran apapun dari negara ini. Kalaupun ada selisih dana yang terjadi, biasanya ini hanya sekedar salah perhitungan dan setelah diselidiki ulang memang benar-benar tidak ada korupsi di Kantor ini. Dikarenakan tidak ada tindak korupsi yang terjadi, maka wawancara yang dilakukan teman-teman pun berkahir sampai disitu. Dari perjalanan ini, kami mendapatkan banyak pelajaran. Diantaranya bagaimana mengelola kerja tim agar mendapatkan hasil maksimal, menekan ego masing-masing kepala dan menekan emosi agar tidak mudah goyah saat adanya perselihan pendapat. Sungguh, korupsi bukanlah jalan pintas yang tepat untuk menjadi kaya ataupun populer. Korupsi hanya akan merusak moral bangsa, menggerogoti kekayaan norma bangsa ini dan menyengsarakan semua keturunan kita dimasa depan.

Lawan Korupsi, Berani Jujur!

Advertisements