Tags

,

Pada Rabu, 4 Mei 2015 adalah hari pertama presentasi tugas wawancara instansi-instansi pemerintah serta partai politik sebagai bentuk tugas mata kuliah anti korupsi yang diampu oleh Ibu Unis W. Sagena. Pada pertemuan pertama ini ada tiga kelompok yang maju menampilkan hasil tugasnya, yaitu

  1. Pemburu Tikus Berdasi,
  2. Ankor Warrior
  3. The Visionary

Pertemuan ini dimoderatori oleh Fahrurrozi (1402045056) serta Ageng Bambang(1402045054) sebagai notulen. Namun sayangnya ada catatan bahwa notulen untuk pertemuan ini tidak melaksanakan tugasnya dengan baik karena tidak memberikan hasil review pertemuan dalam bentuk tulisan seperti notulen sebelumnya serta bahan yang tidak lengkap, sehingga editor harus mencari bahan dari audience lainnya. Editor menambahkan review dengan bahan milik Bella Arisandy(1402045010).

Berikut adalah review pertemuan pertama presentasi yang ditulis oleh editor dengan bahan milik Ageng Bambang dan Bella Arisandy.

Pada pertemuan ini presentasi diawali oleh kelompok Pemburu Tikus Berdasi yang mewawancarai Kepolisian Samarinda, yang bertugas untuk mempresentasikan adalah Firanty(1402045007). Kelompok ini awalnya menceritakan bagaimana sulitnya perjalanan mereka hingga mampu mewawancarai narasumber. Mereka berkali-kali dipersulit oleh pihak kepolisian. Dari video yang ditampilkan dapat terdengar bahwa narasumber mengatakan bahwa pendidikan anti korupsi sejak dini itu sangat penting serta pengawasan moral yang baik agar tidak melenceng dari tujuan awal (pekerjaan). Namun sayangnya video tidak ditampilkan hingga selesai.

Kemudian dilanjutkan oleh Ankor Warrior, presentator adalah Dini H. (1402045031) yang mewawancarai Partai Demokrat dan Kantor Gubernur Kalimantan Timur bagian Biro Hukum. Awalnya presentator juga menceritakan bagaimana perjalanan mereka hingga bisa bertemu dengan narasumber. Narasumber dari Partai Demokrat mengatakan belum ada tidakan korupsi di Partai Demokrat, strategi anti korupsi yang Partai Demokrat terapkan adalah saling mengingatkan antara ketua partai serta para kader partai bahwa korupsi itu tidak baik serta menolak tindakan korupsi dengan melakukan sosialisasi anti korupsi.

Biro Hukum Kantor Gubernur Kalimantan Timur mengatakan bahwa ada kasus korupsi yang terjadi. Pencegahan tindak korupsi dengan diadakan sosialisasi anti korupsi serta dengan menolak konsultasi hukum dari PNS. Narasumber mengatakan bahwa Biro Hukum Kantor Gubernur KALTIM hanya bertugas mengumpulkan bukti-bukti jika benar terjadi korupsi kemudian yang menangani kasus tersebut adalah kejaksaan.

Kekurangan dari presentasi Ankor Warrior adalah waktu yang terlalu panjang karena terlalu lama menceritakan perjalanan mereka.

Presentasi ketiga dilanjutkan oleh The Visionary, sebagai presentator adalah Kurnianto(1402045008) dengan narasumber adalah Bapak H.J.Juminidin yang bertugas di Seksi Hukum dan Pemerintahan Kantor DPRD Provinsi KALTIM. Awalnya kelompok ini juga menceritakan bagaimana susah payahnya mereka hingga bisa bertemu dengan narasumber, walaupun memang kisah yang mereka sampaikan cukup panjang. Narasumber mengatakan bahwa pernah terjadi tindak korupsi oleh Ketua DPRD Provinsi KALTIM pada periode jabatan 2004-2009 yang akhirnya dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Jika ada pejabat yang melakukan tindak korupsi maka pertanggung jawaban secara individual. Di sana juga terdapat Badan Kehormatan DPRD yang setiap ada pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat maka akan diterima laporannya dan akan diproses.

Setelah presentasi selesai maka sesi tanya jawab serta diskusi pun dibuka.

Pertanyaan untuk Pemburu Tikus Beradasi

  1. Bella A. (1402045010) yaitu “Apa strategi atau tindakan nyata anti korupsi yang diterapkan oleh kepolisian?
  2. Reno R.B.(1402045041) yaitu “Apakah kelompok Anda tidak memiliki cadangan narasumber?”

Serta ada tanggapan untuk ketiga kelompok dari Jurmin(1402045011) yang mengatakan bahwa ia tidak menangkap hasil wawancara yang ditampilkan karena ketiga kelompok tersebut lebih cenderung menceritakan perjalanannya sehingga durasi untuk menampilkan video berkurang, padahal yang ingin ditampilkan adalah hasil wawancaranya bukanlah cerita sebelum melakukan wawancara.

Jawaban dari Pemburu Tikus Berdasi (Firanty) adalah memang mereka tadi terlalu lama menceritakan tentang bagaimana perjalanan mereka sehingga video pun harus diputus karena keterbatasan waktu sehingga mereka mengakui kesalahan memang ada di pihaknya. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya di dalam video tersebut narasumber mengatakan bahwa jika ada petugasnya yang melakukan tindak korupsi dan terbukti bersalah maka ia harus mengembalikan uang yang dikorupsi serta tentunya akan ada hukuman pengasingan. Kemudian mereka mengatakan bahwa mereka sebenarnya memiliki satu cadangan narasumber akan tetapi mereka memilih menampilkan narasumber dari kepolisian.

Kemudian ada tanggapan dari Ankor Warrior yaitu Dini. H(1402045031) bahwa ada dua alasan mengapa mereka menceritakan perjalanannya yaitu untuk melihat apakah instansi-instansi yang dituju tersebut membuka tangan untuk kita atau tidak serta untuk melihat usaha kita mencapai instansi tersebut. Penjelasan dari Ankor Warrior tersebut juga dibenarkan oleh The Visionary.

Pertanyaan selanjutnya dari Putri (1402045048) yaitu, “Mengapa anak muda yang harus menjadi tiang anti korupsi kemudian bagaimana dengan orang-orang tua yang sudah dulu menjabat? Apakah mereka tidak bisa untuk anti korupsi?”

Langsung ditanggapi oleh Qintamani(1402045018) yaitu dunia ada di tangan anak muda. Ia mengatakan bahwa orang tua sudah susah dirubah karena akar atau mental mereka sudah sangat kuat. Dilanjutkan oleh Nurhariyani(1402045002) generasi muda yang merubah negeri ini karena seperti saat ini, yang menerima dan telah belajar pendidikan anti korupsi adalah generasi kita. Generasi muda. Ditambahkan oleh Firanty, contoh tindakan anti korupsi yang generasi muda lakukan adalah saat ada uang Rp 200.000 jatuh di kelas kita kemarin, kita mengembalikan uang tersebut kepada mahasiswa yang menempati kelas tersebut sebelum kita masuk. Kita adalah generasi baru seperti kertas putih yang masih suci yang dapat dibentuk karakternya menjadi lebih baik.

Lalu ditanggapi oleh Jurmin yang mengatakan bahwa ia kurang sependapat dengan Firanty, ia menanyakan bagaimana dengan anak muda yang dari kecilnya sudah terbiasa melakukan korupsi apakah artinya masih bersih dan polos sehingga Jurmin mengatakan bahwa menurutnya pendapatnya pribadi adalah tindakan anti korupsi tidak harus dari anak muda tapi berkaca pada diri sendiri.

Pertanyaan selanjutnya dari Jurmin kepada ketiga kolompok, “Apakah kalian telah melakukan pertanyaan dengan 5W+1H?”

Dini menjawab, “Meskipun tidak sadar, dari pertanyaan tersebut kita telah menanyakan dengan 5W+1H dan cukup jelas kepada instansi yang kita wawancarai.”

Firanty menjawab, “Telah mencakup 5W+1H.”

Kurnianto menjawab, “kelompok kami telah sepakat bahwa kami telah menggunakan 5W+1H. Apakah harus bukti? Apakah pernah terjadi tindakan korupsi di sini Pak? Kapan? Periode 2004-2009. Siapa? Ketua DPRD-nya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dimana? Bagaimana?”

Ada masukan dari Permata(1402045049) ke Jurmin bahwa pertanyaan dengan menggunakan 5W+1H tidak harus sistematis dengan kalimat kapan, bagaimana, siapa. Tetapi dengan menayakan apakah, siapa, kapan, dan bagaimana kemudia dari jawaban yang muncul pun akan terjawab dengan sendirinya 5W+1H tersebut.

Advertisements