Tags

,

Pada tanggal 22 April 2015 Ibu Unis telah memberikan kami tugas untuk mewawancarai instansi-instansi tentang Korupsi. Akan tetapi instansi yang paling diutamakan dan diusahakan untuk menjadi narasumber adalah dari instansi kepolisian, kejaksaan, partai politik. Tugas tersebut dikerjakan secara berkelompok. Dan kebetulan kelompok untuk mata kuliah Anti Korupsi telah dibuat sebelumnya. Karena telah mendapatkan tugas berkelompok juga dari Ibu Eni. Kebetulan kelompok kami yang bernama Against The Corruption terdiri dari 7orang yaitu : Hadijah, Indry, Kiki, Nicky, Nurlita, Nurrin, dan Versy. Dalam tugas mewawancarai tersebut kita harus membuat surat pengantar dari Akademik Prodi Hubungan Internasional. Yang bertugas untuk meminta surat tersebut ke akademik adalah Indry. Ia meminta surat tersebut pada tanggal 27 April 2015 dan baru mengambil surat tersebut pada tanggal 29 April 2015 serta meminta tanda tangan akademik dan TU setelah itu meminta stempel. Kami meminta dua surat, satu untuk ke Dinas Pendapatan Daerah dan satu lagi untuk Partai Politik NASDEM.

Kami mulai mengerjakan tugas tersebut pada tanggal 29 April 2015 pada pukul 09.30 WITA saat mata kuliah Teori Hubungan Internasional selesai. Sebelum melaksanakan tugas  kami meminta tanda tangan dari Bu Unis terlebih dahulu. Jadi, kami mendatangi beliau di Perpustakaan Universitas Mulawarman. Lalu perwakilan dari kelompok ATC yaitu Nicky dan Nurrin mendatangi beliau di ruangannya. Dan akhirnya kami mendapatkan tanda tangan dari Bu Unis. Segera kami berangkat ke tempat tujuan kami yang pertama yaitu Dinas Pendapatan Daerah. Setelah kami sampai di Dispenda. Kami disambut oleh security. Karena merasa perlu, kami lalu memperlihatkan surat pengantar. Kemudian kami diperbolehkan masuk ke dalam kantor DISPENDA. Setelah itu, kami masuk ke kantor tersebut. Ada resepsionis disana, karena kami mengerti tata cara bertamu ke kantor orang, terlebih ke instansi pemerintah seperti ini, kami pun mendatangi resepsionis untuk melapor maksud dan tujuan kedatangan kami. kami kembali memperlihatkan surat pengantar tersebut. Kami diminta mengisi buku tamu dan menuliskan maksud kedatangan kami, yaitu untuk wawancara pada selembar kertas kecil yang lebih mirip memo, untuk Kepala DISPENDA.

Memo itu dibawa oleh resepsionis, ya entah apa namanya tapi bapak-itu-lebih-terlihat-seperti-resepsionis-di mata-kami. Setelah dibuatnya menunggu sekitar 15 menit, beliau kembali degan membawa walkie-talkie dan agenda kecil kami tadi. Beliau berkata “Yah, maaf nak, Ibu Nita nya sedang tidak ada di tempat, kira-kira jam 1-lah kalian kembali ke sini”. Kami tentu kecewa, kecewa yang amat sangat. Walaupun tidak menunggu lama tetapi, harapan kami untuk dapat mewawancarai beliau sangatlah besar. Tidak patah arang, kami mencoba untuk bertanya apakah ada staff lain yang dapat kami wawancarai? Lalu, si teaman bapak itu menjawab “ Ya ngga bisa lah, kalian loh, siapa? Ga bisa sembarangan kalau mau wawancara itu” dengan nada sewot. Agak jengkel sih, lagian kami kan punya surat tugas. Kami juga datang dengan sopan dan bermaksud baik, tetapi malah dilayani dengan kurang baik. Kami berpersepsi bahwa “kalangan atas mungkin perlu ruang, ruang untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi”.

Kami lalu mengubah destinasi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di rumah salah satu teman kami, Hadijah. Kami kembali memutar otak. Kemana lagi? Instansi mana lagi yang harus kami datangi? Kami kemudian sama-sama berunding, kemudian tercetuslah ide untuk mewawancarai Kepala Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi Kaltim, karena salah satu teman kami, Hadijah mengenal orang dalam dari satuan tersebut. Setelah beristirahat, kami langsung menuju ke kantor pengembangan air minum dan sanitasi Kaltim. Sesampainya di sana, kami menuju ke pintu masuk, namun lagi-lagi kami dipersulit, anak buah-dari-si-kepala-dinas itu mengatakan bahwa atasannya sedang keluar kota, kami disuruh kembali besoknya. Biar cepat ya kami iyakan saja. Jadilah besoknya kami kembali ke kantor Sanitasi tersebut. Kami membagi 2 grup, Hadijah, Nurrin, Versy, Nicky, Nurlita berangkat ke kantor sanitasi, lalu Indry dan Kiki pergi untuk mewawancarai salah satu kader Partai NASDEM. Perjalanan dimulai pukul 8 pagi.

PARTAI NASIONAL DEMOKRAT

Kami (Indry dan Kiki) berangkat menuju rumah salah satu kader Partai NASDEM. Cukup jauh, di daerah sungai kapih, sambutan. Kebetulan, kader partai tersebut adalah tetangga dari teman kami (Novi) jadi kami memutuskan untuk meminta bantuan ke dia. Hari sebelumnya kami sudah membuat janji dengan Ibu-istri-dari-Bapak-Komarudin-kader-partai-tersebut. Kata si ibu “ Oh bapaknya bisa kalau besok (hari ini) nak, kalau sekarang sedang keluar kota…”. Hari ini kami sudah berada di rumah kader partai tersebut, setelah menunggu sekitar beberapa menit di luar pagar, akhirnya si Ibu membukakan pagar. Yang membuat kami agak heran, beliau sempat bertanya “ dari mana ya? “ ,” ada apa? Ada kepentingan apa? “ loh, bukannya beliau yang menjanjikan kami untuk kembali ke rumahnya hari ini? Entah mungkin karena faktor umur, sehingga daya ingat beliau agak kurang baik. Setelah selesai dengan kebingungan tadi, kami dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya, kami pun masuk lalu duduk di ruang tamu. Si Ibu masuk ke dalam untuk memanggil si Bapak. Beberapa menit kemudian, si Bapak keluar dengan kaus berwarna biru berkerah dan bawahan sarung motif kotak-kotak, terlihat wajah si Bapak seperti kurang tidur. Beliau lalu duduk dan kembali bertanya “Ini ada apa? Darimana?” ,  “Kami dari Universitas Mulawarman, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional, bermaksud mewawancarai Bapak, mm.. Bapak kan salah satu kader dari Partai NASDEM yang sekarang duduk di kursi pemerintahan sebagai salah satu anggota DPR, kami ingin mengetahui tanggapan Bapak tentang korupsi..” jelas kami panjang lebar. “Kenapa kalian nggak ke kantor (Markas Besar NASDEM) saja? Kan banyak tuh temen-temen dari partai lain, lagian enak juga kan kalau di kantor, lebih dingin, lebih leluasa kalau mau wawancara” jawab si Bapak. Kami berdua terdiam saling pandang mendengar penjelasan Bapak itu. Jarak rumah beliau dari rumah kami, tidaklah dekat, effort yang kami keluarkan untuk bisa masuk ke rumah Beliau sekarang pun tidaklah main-main. Kami kecewa mendengar jawaban beliau, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jujur saja, kami sangat ingin bernegosiasi kepada Bapak ini. Kenapa sih, tidak bisa wawancara sekarang saja? Toh kami hanya bertanya mengenai pendapat beliau. Pada akhirnya kami menyetujui usulan beliau untuk mendatangi markas NASDEM.

Kami keluar dari rumah beliau tanpa diantar sebagai selayaknya seorang tamu. “ Assalamualaikum, Pak. Terima kasih atas waktunya…” ujar kami, namun, niatan baik kami mengucapkan salam, disambut dengan si Bapak yang langsung menutup serta mengunci pintu rumahnya dengan agak keras. Sangat ketara bahwa beliau tidak menyukai kedatangan kami ke rumahnya. Kami keluar seraya berjalan pulang, hari sudah semakin siang dan matahari sudah semakin tinggi. Kami memutuskan untuk kembali ke kampus. Akhirnya kami kembali ke kampus dan langsung menuju gedung rektorat, karena menurut kami, di dalam gedung rektorat merupakan salah satu area yang nyaman, bersih dan dingin. Cocok untuk melepas penat sebentar. Lalu ponsel Indry bordering. “ Versy, Memanggil “ Indry mengangkatnya. Terdengar suara Versy di seberang.. “ Ndry, kami sudah wawancara partai PERINDO, sudah dibuatkan surat keterangan wawancara langsung dari kesekretariatannya sendiri. Maaf kalau nggak bisa NASDEM, tapi PERINDO kan juga parpol. Jadi, parpol udah beres ya..” Kami lega!! Sangat! Setidaknya ada partai politik yang bisa menjadi bahan wawancara kami. Kami (Hadijah, Nicky, Nurrin, Nurlita, Versy yang melakukan wawancara)  mendapat kesempatan untuk mewawancarai ketua partainya langsung. Beberapa pertanyaan yang kami ajukan seputar “Apakah ada kasus korupsi di partai bapak?” lalu Beliau dengan santai menjawab, “ Tidak ada kasus korupsi yang terjadi sejauh ini di PERINDO, karena salah satu faktornya adalah kami masih merupakan partai yang baru. Selain itu, karena setiap calon kader yang ingin bergabung ke dalam PERINDO, harus diseleksi secara ketat. Tentu saja dengan melihat track record nya selama berorganisasi dan riwayat hidup serta pekerjaannya”. Kami mencatat tiap poin-poin penting yang beliau bicarakan. Di akhir wawancara, beliau juga memberikan nasehat kepada kami, “ Partai di Indonesia ini masih kekurangan kader perempuan. Ayolah, kalian sebagai generasi muda khususnya perempuan, untuk bisa menjadi pelopor dari itu. Saya berharap peran wanita dalam parpol lebih di tonjolkan lagi..”.

SATUAN KERJA PENGEMBANGAN AIR MINUM DAN SANITASI KALTIM

Kami (Hadijah, Versy, Nicky, Nurrin, Nurlita) berangkat menuju Dinas Satuan Kerja Pengembangan Air Minum & Sanitasi KALTIM. Keadaan sangat ramai oleh pegawai-pegawai disana. Memang, karena hari itu adalah hari Senin dan apel pagi baru saja usai. Kami lalu masuk ke kantor satuan kerja tersebut untuk mencari kepala dinasnya. Beruntung, kami bertemu dengan beliau. Tanpa buang-buang waktu lagi, kami langsung memulai wawancara. Suasana di kantor tesebut sangat ramai, kami agak sedikit terganggu sebenarnya, tetapi itu bukan halangan yang berarti. Kami tentu mengajukan beberapa pertanyaan singkat mengenai korupsi, “ Bagaimana tindakan Bapak dalam memerangi kasus korupsi di instansi Bapak sendiri? “ Tanya salah satu teman kami yang bertugas sebagai pewawancara, Nicky. “ Ya.. saling mengingatkan satu sama lain antar karyawan di sini. Mengingatkan kalau tindakan korupsi itu adalah dosa. Dan itu juga sudah diatur dalam Al-Qur’an.. “. Merasa cukup puas dengan jawaban beliau, kami pun menyudahi sesi wawancara tersebut. kami lalu berpamitan kepada beliau untuk pulang.

Lucu rasanya melihat beberapa instansi terlebih partai politik yang seolah-olah “takut” ketika ingin dimintai pendapat mengenai korupsi. Well, kami bukan KPK, atau utusan KPK yang berusaha mengungkap kasus korupsi suatu instansi atau partai. Kami mahasiswa HI semester 2 yang sedang menjalankan tugas untuk mewawancarai orang-orang penting tentang korupsi. Kami merasa tidak adanya keterbukaan antar “mereka-yang-di atas” dengan kalangan bawah, yang tidak duduk di kursi parlemen, terlebih partai politik. Menjadi seorang anggota DPR/DPD/DPRD merupakan suatu beban, amanat, tanggung jawab, bukan sebuah prestise atau hal yang dijadikan ajang untuk showing off. Mereka adalah perwakilan dari rakyat. Mereka adalah pembawa pesan, aspirasi juga suara rakyat. Secara kasar, mereka adalah pembantu rakyat, karena mereka bekerja untuk rakyat, mereka dipilih dan berhasil menduduki kursi parlemen pun itu karena rakyat. Lalu, apakah salah jika kami, mahasiswa yang notabene adalah rakyat, ingin mengetahui pandangan dari anggota DPR yang tekah kami pilih, mengenai kasus korupsi? Apakah berlebihan? Kami rasa tidak. Kami mengerti ketidaksediaan mereka yang menjadikan waktu sebagai alasan. Kami beranggapan, betapa sibuknya para wakil rakyat yang duduk di kursi parlemen.

Melalui jurnal perjalanan wawancara ini, kami ingin mengajak Anda untuk melihat bagaimana mereka yang memiliki jabatan tersebut menghadapi kasus korupsi yang sedang nge-trend di Indonesia. Kami melakukan wawancara terbatas mengenai hal umum saja. Mengapa? Sebelum melakukan wawancara, kami semua sepakat untuk terlebih dahulu meneliti, menelaah serta membaca gesture dari narasumber. Walaupun berbagai pertanyaan mengenai korupsi tertata rapi di dalam benak kami dan siap untuk dilontarkan kepada sang narasumber, kami tetaplah mahasiswa yang sedang menjalankan tugas wawancara, bukan melakukan penyelidikan. Melalui gesture narasumber tersebutlah kami mampu menganalisa pertanyaan apa yang harusnya kami berikan.

Kami berharap, semoga dengan jurnal perjalanan “ AGAINST THE CORRUPTION “ ini, bisa membuka pikiran Anda, untuk mulai memerangi atau mulai untuk membentengi diri Anda dari apapun jenis tindakan korupsi.

Advertisements