Tags

Pertemuan ketiga, Pendidikan Anti Korupsi Hubungan Internasional A 2014 pada Rabu, 22 April 2015 yang bertema Upaya dan Strategi Anti Korupsi di Lingkungan Terdekat (Kampus, Keluarga). Pada pertemuan kami melakukan diskusi yang dipimpin oleh Firanty/1402045007 sebagai moderator dan Armin Beni Pasapan/1402045060 sebagai notulen. Berikut ini adalah hasil dari tulisan Armin Beni Pasapan selaku notulen dalam diskusi Pendidikan Anti Korupsi 22 April 2015.

Sampai saat ini korupsi bukanlah isu yang baru dikenal di kalangan masyarakat apalagi di kalangan mahasiswa. Ironisnya, meski beragam upaya, strategi dan wacana terus didengungkan oleh semua kalangan untuk memeranginya, namun praktik korupsi tetap berlangsung dimana-mana. Semestinya tak hanya institusi-institusi pengamat ataupun pemberantas korupsi saja yang sibuk bersuara dan bergerak. Tetapi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa menjadikan kejujuran sebagai sebuah budaya bangsa dan menghalau semua tindakan penggerogotan bangsa, ini hendaknya menjadi tanggung jawab setiap mahasiswa sebagai kalangan muda. Oleh karena itu pada hari ini, kami mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Kelas A angkatan tahun 2014 Universitas Mulawarman mendiskusikan tentang Upaya dan Strategi Anti Korupsi di Lingkungan Terdekat baik di Kampus maupun di Lingkungan Keluarga. Memulai diskusi kami, mahasiswa bernama Kurnianto Rombe Rante ( Poro ) / 1402045008 mengemukakan upaya dan strateginya untuk mengatasi korupsi. Poro berpendapat bahwa “Sebagai mahasiswa penting adanya untuk ditanamkannya kesadaran diri memerangi korupsi di lingkungan kampus. Tentu saja banyak hal positif yang aktif dilakukan di kampus. Yang pertama, mencoba membuat organisasi yang berorientasi anti korupsi. Caranya adalah dimulai dari merangkul teman-teman Fisipol Universitas Mulawarman yang sepaham untuk memerangi korupsi. Kemudian ketika sudah banyak anggotanya, organisasi itu akan merangkul lagi teman-teman dari fakultas lain untuk bersama-sama memerangi korupsi dan bekerjasama dengan Rektorat. Nantinya di dalam organisasi itu, kita akan membuat artikel tentang anti korupsi, mengkampanyekan bahaya korupsi, dan membuat event Seminar Anti Korupsi yang mengundang narasumber dari nasional. Serta, ketika kita melihat hal-hal yang mencurigakan dan berbau korupsi, segera telusuri hal itu”. Tetapi apa yang disampaikan Poro disanggah oleh Jurmin / 1402045011, Jurmin berpendapat “Apa yang dikatakan saudara poro cakupannya masih terlalu luas.” menurut Jurmin, upaya yang tepat adalah dimulai dari diri sendiri. Keberanianlah yang harus ditanamkan agar dipercaya oleh orang dan menjadikan diri kita sebagai agen action. Dia bertanya kepada poro, “Cara apa yang anda gunakan untuk meyakinkan orang?”. Kemudian Poro menjawab “Ya, dimulai dari kelas kita, meyakinkan diri kita terlebih dahulu kemudian menyakinkan orang lain. Ya kita sebagai generasi pertama di Universitas Mulawarman yang belajar Pendidikan Anti Korupsi harus sadar akan tanggungjawab untuk melawan korupsi. Meyakinkan orang dengan cara memberikan pemahaman tentang Korupsi”. Kemudian saudara yang bernama Permata Sri Rahayu / 1402045049 mengemukakan pendapatnya juga bahwa dia kurang setuju pendapat Poro yang memulainya kepada targetan yang luas. Dan menurutnya strategi yang dia gunakan dimulai dari Lingkungan Keluarga. Karena lingkungan keluarga merupakan yang paling terdekat dari kita. Dengan cara sebagai Ibu dan Ayah sudah menjadi kewajiban menanamkan rasa jujur kepada anak. Karena apa yang terjadi di dalam keluarga akan mempengaruhi sikap anak. Dan tanggung jawab yang ditanamkan sejak dini. Sebagai individu wajiblah kita untuk mengepentingkan kepentingan umum dahulu kemudian kepentingan pribadi. Tetapi berbeda lagi apa yang dikatakan oleh saudara Fahrurrozi / 1402045056. Dia berpendapat bahwa dia sepakat dengan apa yang dikatakan saudara Jurmin. Upaya yang baik itu dimulai dari diri sendiri. Dan dia tidak sepakat dengan pendapat poro tentang meyakinkan diri. Karena menurutnya meyakinkan diri itu relative karena niat yang belum pasti. Strategi yang Fahrurrozi gunakan adalah dari lingkungan paling dekat dulu yaitu Keluarga. Contoh : menghilangkan kebiasaan ketika membeli sesuatu dengan mengambil uang kembalian tanpa memberi tahu orang tua, kebiasaan ketika diminta tolong dengan meminta imbalan, dan ketika memnita sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai ( uang kost ). Ketika hal-hal itu dibiasakan maka akan semakin meluas. Taat beribadah juga merupakan cara yang tepat menurutnya. Dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga, tidak bersikap apatis terhadap praktek korupsi. Di sela-sela panasnya perbedaan pendapat, ada saudara Dini Hariyati/1402045031 yang membuat ketegangan itu kembali menjadi kondusif. Dia mengemukakan strateginya bahwa Pertama, Anti Korupsi itu di mulai dari keluarga yang memberikan didikan moral dan perilaku yang baik ( pendidikan ). Kedua, berkomitmen pada diri sendiri untuk menolak korupsi itu. Dia mempraktekkannya dengan menghilangkan cara dia titip absen. Dia berkata tidak pernah titip absen lagi. Dia juga bercerita pengalamannya yaitu ketika dia membuat SIM. Orang tuanya sudah memberikan saran bahwa bayar saja, murah saja dan cepat jadi juga. Tetapi Dini menolak itu, bahwa itu hal yang tidak baik. Dia lebih memilih mengikuti alur pembuatan SIM dari awal sampai akhir. Kata-kata dari Dini adalah segera berhenti korupsi walaupun itu dalam konteks kecil dan apa yang kita katakan itu yang kita pegang. Kemudian, saudara Nur Rahmat/1402045020 mengemukakan pendapatnya juga bahwa dia setuju dengan pendapat Fahrurrozi yaitu dimulai dari diri sendiri. Pertama, dimulai dari iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan niat dan tekad untuk menjauhkan diri dari perbuatan korupsi. Mengontrol diri dengan beribadah, juga menambah wawasan tentang korupsi itu. Kedua, komitmen yang dipegang untuk terus menerus menjalankan upaya pemberantasan korupsi. Dilanjut oleh saudara Rivaldi/1402045053 yang berpendapat bahwa dia setuju dengan saudara Fachrurrozi dan Nur Rahmat. 2 konsep yang menjadi strategi Rivaldi adalah Pertama, keagamaan. Secara keagamaan orang-orang yang melakukan korupsi telah melanggar ajaran agama dan di agama manapun tidak ada yang mengatakan korupsi itu adalah halal, melainkan korupsi itu adalah hal yang haram. Tidak pasti bahwa orang yang religius tidak akan melakukan korupsi. Cara selanjutnya mengingat bahwa Tuhan itu ada dimana-mana, meskipun kita melakukannya secara sembunyi-sembunyi tetapi hal itu jelas terlihat di mata Tuhan. Kedua, diri sendiri dengan cara meninggalkan hal-hal kecil yang salah dan jangan meremehkan hal-hal kecil yang salah karena hal yang kecil itu akan merajalela dan membesar jika dilakukan terus-menerus. Intinya adalah perkuat iman dan taqwa dan meninggalkan hal-hal kecil yang berbau korupsi. Berbeda lagi dengan apa yang dikatakan oleh saudara Arif Fa’at/1402045032 yang berpendapat dia setuju dengan pendapat Poro bahwa membuat organisasi di kampus yang berorientasi kepada Anti Korupsi akan lebih efektif jika dengan tekad dan niat yang kuat. Dan strategi Arif untuk menindas korupsi dengan menggunakan 3 pendekatan yang diambil dari cara Negara Hongkong, yaitu : Hukuman, Pendidikan dan Pencegahan. Hukuman yang kuat untuk para koruptor dengan membuat UU yang sesuai dengan tingkatan korupsi. Pendidikan dengan menanamkan sifat kejujuran dalam diri setiap individu. Dan pencegahan dimulai dari hal yang kecil dan dimulai sejak dini. Pendapat dari Arif dipertanyakan oleh Saudari Fitri “Apa yang anda lakukan ketika orangtua anda yang melakukan korupsi?” Arif menjawab dengan tegasnya bahwa ia akan melaporkannya ke KPK. Kemudian saudara yang bernama Reno Veroliano Bakara/1402045041 mengemukakan strategi yang ia gunakan untuk memerangi korupsi itu. Dia berkata bahwa sejak dini orang tua dan guru menanamkan sifat-sifat yang anti dengan korupsi karena itu siswa akan terbiasa, melekat di dalam diri siswa dan itu terkenang sepanjang masa. Dan dia memberikan contoh ketika ada mahasiswa yang menitipkan tanda tangan kepada temannya, temannya itu harus menasihati temannya yang salah itu dan tidak menandatanganinya. Intinya semua pemberantasan korupsi harus dimulai dari hal-hal yang kecil kemudian hal-hal yang besar. Lagi dan lagi ada yang mengemukakan pendapatnya lagi yaitu saudara Nur Hariyani Bahar/1402045002. Strategi yang dia lakukan untuk memberantas korupsi adalah dalam lingkup yang besar dengan cara kerjasama dengan pemerintah untuk menjadikan orang-orang di Indonesia berpendidikan dan anti terhadap korupsi. Menurutnya manusia sebahai makhluk Tuhan harus anti terhadap korupsi. Dan mengaplikasikan 9 nilai Anti Korupsi yaitu, Kejujuran, Kepedulian, Kemandirian, Kedisiplinan, Tanggungjawab, Kerja keras, Kesederhanaan, Keberanian dan Keadilan. Dan sejak dini anak kecil diberikan pendidikan anti korupsi dengan pengaplikasian yang berbeda dengan orang dewasa. Dan dari lingkungan kampus adalah mahasiswa membuat organisasi yang berorientasi anti korupsi dan kembali lagi pada diri sendiri yaitu takut pada Tuhan. Dilanjut lagi pendapat dari saudara Jurmin/1402045011 yang menekankan kepada agama. Bukan individu yang mempengaruhi agama melainkan bagaimana agama berpengaruh kepada tiap-tiap individu karena di Indonesia semua yang melakukan korupsi itu adalah orang yang beragama. Dan seharusnya yang harus dibangun adalah pendidikan karakter bangsa. Dan strategi dan upaya yang dilakukan oleh saudara yang bernama Qintamani/1402045018 berbeda dengan yang lainnya. Pertama, dia mengomentari pendapat Arif yang mengatakan akan melaporkan orangtuanya ke KPK jika melakukan korupsi. Menurutnya itu adalah cara yang kurang baik, seharusnya yang dilakukan adalah menasihati terlebih dahulu orangtua. Dan strategi utama Qintamani adalah membentuk komunitas dulu 3-4 orang yang benar-benar komitmen anti korupsi. Dengan 3-4 orang akan lebih mudah mengontrolnya. Dan komunitas itu akan mengadakan seminar-seminar anti korupsi, sosialisasi dan lomba-lomba yang berorientasi anti korupsi. Selanjutnya adalah mengajarkan tentang sikap anti korupsi ke pada anak-anak dengan cara yang mereka sukai, misalnya dengan cerita-cerita kecil, dongeng. Dengan bahasa yang lebih mudah mereka pahami. Itu akan membentuk pemikiran mereka sampai mereka dewasa nantinya. Intinya adalah memperbaiki yang dibawah dulu, karena memperbaiki yang sudah rusak di atas itu lebih susah. Jadi, ketika sudah di perbaiki sejak dini kedepannya akan terus menjadi baik. Dan pendapat yang terakhir adalah dari saudara Erni Mayura/1402045026. Dia mengemukakan strateginya yaitu dari lingkungan kampus. Menanamkan rasa untuk selalu menghindari hal yang berbau korupsi dari setiap mahasiswa kemudian mengaplikasikannya dengan memberantas korupsi itu dengan cara seperti membuat kantin kejujuran. Di sana akan diuji mahasiswa yang jujur dan mahasiswa yang tidak jujur. Kemudian meminta transparansi dari birokrasi ketika mendapatkan beasiswa di kampus. Dan perlu kalian ketahui bahwa Dosen kami yang bernama Bu Uni Wahyuni Sagena yang akrab disapa Bu Unis memberikan penilaian dari diskusi kami terhadap orang-orang yang memberikan pendapatnya dengan memberikan bintang kepada mahasiswa di kelas kami. Yang pertama, Arif Fa’at/1402045032 dengan kategori cara menyampaikan pendapatnya bagus disesuaikan dengan body languagenya. Kedua, Dini Hariyati/1402045031 dengan kategori menyampaikan pendapatnya berdasarkan fakta dari pengalaman pribadinya. Ketiga, Jurmin/1402045011 dengan kategori sebagai penyampai pendapat yang kata-katanya tersusun secara sistematis, rapi dalam mengemukakan pendapatnya. Keempat, Qintamani/1402045018 dengan kategori memberikan strategi yang simple dan mudah dilakukan (persuasive). Dan yang terakhir adalah Erni Mayura/1402045026 dengan kategori argumennya yang berdasarkan fakta dan data statistik yang ada.

Jadi, kesimpulan yang dapat diambil dari hasil diskusi kami adalah untuk memberantas korupsi itu di mulai sejak dini dari masa kanak-kanak hingga dewasa dan dimulai dari hal-hal yang kecil kemudian ke hal-hal yang besar.

Advertisements